Dialog Antara Professor yg Anti-Tuhan dan Murid yang Cerdas nan Beriman

05:35


beberapa sumber menyebutkan bahwa ini terjadi antara Einstein dan salah satu muridnya

Professor : Kamu seorang muslim, iya kan anakku?

Murid : Benar Prof.

Professor: Jadi, kamu percaya TUHAN itu ada.

Murid : Sangat percaya, prof.

Professor : Apakah TUHAN itu baik?

Murid : Iya.

Professor: Apakah TUHAN itu Maha Kuasa?

Murid : Betul.

Professor: Saudaraku meninggal karena kanker, padahal dia senantiasa berdo'a kepada TUHAN agar menyembuhkan penyakitnya. Kebanyakan kita (manusia) pasti berusaha menolong satu sama lain jika sakit, bukan? Tapi TUHAN tidak. Jadi bagaimana bisa TUHAN itu baik? hmmm

(Si Murid terdiam)

Professor: Kamu gak bisa menjawab, kan? Ayo kita mulai lagi anak muda. Apakah TUHAN itu baik?

Murid : Betul

Professor: Apakah Setan itu baik?

Murid : Tidak

Professor: Darimana setan berasal?

Murid : Dari TUHAN

Professor: Betul sekali. Beritahu aku, apakah ada yang namanya KEJAHATAN di Bumi?

Murid : Iya, ada.

Professor: Kejahatan ada di mana-mana, bukan? dan bukankah TUHAN itu yang menciptakan segalanya. Bukan begitu?

Murid : Iya.

Professor: Jadi siapa yang menciptakan KEJAHATAN?

(Si Murid tidak menjawab)

Professor: Kesakitan, Kefanaan, Kebencian, Kejelekan, semua hal itu ada di Bumi, bukan?

Murid : Benar prof

Professor: Jadi, siapa yang menciptakan mereka?

(Si Murid tidak punya jawaban)

Professor: Sains mengatakan bahwa kamu punya 5 penca indera untuk mengenali sesuatu dan mengamati lingkungan sekitarmu. Ceritakan padaku, apakah kamu pernah melihat TUHAN?

Murid : Belum prof.

Professor: Pernahkah kamu mendengar "suara" TUHAN

Murid : Belum pernah

Professor: Pernahkah kamu merasakan TUHAN, menciumnya, membauinya? Pernahkah kamu punya "persepsi sensoris" seperti apakah kira-kira TUHAN itu?

Murid : Sayangnya belum pernah sama sekali.

Professor: Jadi kamu masih percaya pada-Nya

Murid : Iya.

Professor : Berdasarkan Sains, kajian empiris dan eksperimen, TUHAN-mu itu tidak ada anakku. Sepakat?

Murid : Tidak. Tapi aku percaya saja. Aku punya "IMAN"

Professor: Betul, PERCAYA, IMAN. Tapi hal seperti itu tidak bisa dijelaskan dengan Sains.

Murid : Professor, apakah ada yang namanya "panas"?

Professor: Tentu saja

Murid : Apakah yang namanya "dingin" juga ada?

Professor: Ya

Murid : Tidak Prof, dingin itu tidak ada?

(Kelas menjadi sunyi setelah si Murid yang mengambil alih pembicaraan)

Student : Prof, anda bisa menyatakan panas dalam jumlah banyak, sangat panas, luar biasa panas, sedikit panas, atau bahkan tidak panas. Tapi tidak ada yang namanya dingin. Kita bisa mencapai suhu 273,15 derajat di bawah nol (suhu nol mutlak) dan kita tidak bisa turun . Tidak ada yang namanya dingin. Dingin hanyalah "istilah" untuk menjelaskan kondisi tidak adanya panas. Panas adalah bentuk dari Energi. Kita tidak bisa mengukur seberapa banyak "dingin". Dingin bukan lawan dari panas, hanya istilah untuk menyatakan tidak adanya panas.

(Kelas semakin hening)

Murid : Bagaimana dengan gelap, Professor? Apakah itu ada?

Professor: Ya. Bagaimana mungkin ada malam jika gelap tidak ada.

Murid : Anda keliru lagi. Gelap itu adalah tidak adanya cahaya. Anda bisa menyatakan cahaya samar-samar, cahaya normal, cahaya terang, cahaya berkilat. Tapi jika anda tidak mempunyai cahaya sama sekali, maka hal tersebut disebut dengan gelap. Pada kenyataannya, gelap itu tidak ada. Jika ada, bisakah anda membuat gelap lebih gelap lagi?

Professor: Sebenarnya apa tujuan pembicaraanmu anak muda?

Murid : Professor, tujuan saya hanya ingin menunjukan bahwa ada cacad dalam prinsip berfikir anda

Murid: Cacad? Cacad seperti apa anakku?

Murid : Begini Prof, anda berfikir menggunakan prinsip dualitas. Anda berargumen, jika ada hidup pasti ada mati, TUHAN yang BAIK dan TUHAN yang JAHAT. Anda melihat bahwa konsep TUHAN adalah sesuatu yang "hingga", sesuatu yang bisa kita ukur. Prof, Sains bahkan tidak bisa menjelaskan yang namanya pikiran. Menurut sains, pikiran melibatkan listrik dan magnet dalam otak, tapi tidak pernah kelihatan "pikiran" itu seperti apa. Melihat kematian sebagai lawan dari Kehidupan adalah mengacuhkan fakta bahwa kematian justru tidak bisa berdiri sendiri.
Kematian bukan lawan dari kehidupan, melainkan ketidak-adaan kehidupan itu sendiri. Professor, apakah anda mengajari murid anda bahwa mereka berasal dari "monyet"?

Professor: Jika maksudmu adalah prose seleksi alam (teori Darwin), ya tentu saja, saya mengajari murid saya hal tersebut.

Murid : Pernahkah anda mengamati proses evolusi seleksi alam dengan mata kepala anda sendiri?

(Si Professor menggelengkan kepalanya sembari tersenyum. Ia mulai mengerti kemana arah pembicaraan ini mau dibawa)

Murid : Karena tidak pernah ada yang mengamati proses Evolusi secara langsung dan tidak pernah bisa dibuktikan bahwa proses ini masih berlangsung hingga sekarang, bukankah anda justru menyampaikan "pendapat" anda sendiri? alih-alih menyampaikan ilmu dan fakta ilmia? Kalau begitu, anda bukan seorang ilmuwan, anda cuman seorang penceramah?

(Kelas mendadak heboh)

Murid : Apakah ada yang pernah melihat otak Professor di kelas ini?

(Seluruh kelas tertawa riuh)

Murid: Apakah ada seseorang yang pernah mendengar otak Professor, merasakannya, menyentuhnya atau membauinya? Sepertinya tidak ada yang pernah. Berdasarkan kaidah empiris dan logis, menurut sains anda tidak punya otak Professor. Dengan penuh hormat, kalau begitu bagaimana kita bisa mempercayai kuliah dari anda?

(Seisi kelas terdiam. Professor menatap dalam-dalam si Murid.

Professor: Mengenai hal tersrbut, sepertinya cukup dengan "percaya" saja.

Murid : Nah, itu dia Prof, manusia dan TUHAN dihubungkan dengan "percaya", dengan IMAN.

You Might Also Like

0 comments

About me

Mencintai Sipil dan Sastra sebagaimana mencintai suami dan anak meski belum punya.

Penggiat Senyum dan Kebahagiaan Ummi Abi

Civil Engineering 2011 | Brawijaya Malang University | Young Engineer at PT Hirfi Studio Engineering and Management Consultant

Blog : jun-syifa.blogspot.com
Twitter : @araleostrada
Instagram : @jun.syifa

Like us on Facebook

Flickr Images