Aku dan Kau

21:26

“Jika banyak tangis yang terdengar…hati akan menjadi lembut…”
“Jika semua orang melakukan apa yang mereka pikirkan…hati jadi puas…”
~ Luna Torashyngu ~




Tetes – tetes air hujan berirama memukul daun jendelaku. Tak terusik dingin gelapnya malam. Pergolakan suara di atas sana saling berbenturan, tak berarti walau mendung sudah terarah, pertanda hujan deras. Duduk disini, mengetuk – ngetuk pensil ke meja mengikuti alunan musik Time is Running Out-nya Muse, menyorat-nyoret, lalu berdiri mondar-mandir.
“Daripada mondar-mandir kayak setrikaan mending nonton film, filmnya bagus nih,” Aku tak menggubris ajakanmu. Masih memeras otak, lalu terpecah….
Ringtone Handphoneku berbunyi tanda ada sms masuk.
“Dari cintamu, tuh!” Aku mengelak, “bukan! Enak saja, orang aneh gitu.” bergegas merebutnya dari tanganmu, tak peduli besok ada ulangan Fisika dan PR yang masih menumpuk, tak peduli akan senyumanmu yang penuh arti. Masa bodoh. Sudah cukup senang yang berarti.
JJJ
            Di sebuah sekolah, SMA Negeri 2 Pare.
            “Dina!” ada suara yang memanggilku. Aku menoleh. Ternyata Rika, sahabatku sejak kecil, seorang akhwat yang benar – benar akhwat yang kaffah, sahabat yang benar – benar “sahabat”…sampai sekarang ini…
            “Hei, ada apa?” tersenyum,
“Sudah belajar Fisika? peh, aku sudah belajar tapi, tetap aja nggak ngerti. Kamu sudah belajar sama Abimu, kan? ajarin dong nanti,” serbu Rika.
“Alhamdulillah sudah, aku juga nggak ngerti,” aku tersenyum, aku bohong padahal kemarin aku sms-an sama kakak kelas, dan nonton film.
“Semoga ulangannya nggak jadi,” harap Rika menerawang. Dalam hati aku mengamini dengan keras. Amin! Ya Allah!
“Hei, bagaimana kabar teman barumu, si Melly?” tanya Rika tiba – tiba. Aku terhenyak.
 “Kamu kenal dia lewat Facebook, kan? kapan nih aku dikenalin?….” “…katamu anaknya asik banget ya?” tanya Rika lagi.
“Secepatnya!” jawabku bersikap biasa.
“Tapi, Din, kata Ustadzahku harus hati-hati dengan Chatting lho…”Aku tersinggung.
“Nggak usah, njelek-njelekan temanku deh, kamu kan belum kenal! Kalo Ustadzahmu mau ceramah, jangan ke aku, ke pengajian sono!”
Aku secepatnya berlari meninggalkan Rika menuju ke kelas. Aku dan Rika sekelas.  Aku tidak suka Rika menjelek-jelekkan Melly. Rika kan belum mengenal Melly. Melly itu orangnya asik beda sekali dengan Rika yang Eksklusif. Pokoknya enak deh kalau melakukan sesuatu dengan Melly. Jadinya, saat Rika masuk aku mengacuhkannya, menghindar. Pikiranku semakin berkecamuk. Masa bodoh! Yang penting sekarang ulangan Fisika. Alamat!!! aku belum belajar, nggak bisa nyonto lagi, harapan tinggal harapan, pasrah aja deh, semoga ada keajaiban.
JJJ
Saat pulang sekolah, pukul 16.00 WIB
“Dina!” aku yang buru-buru pulang terpaksa menghentikan langkah. “Tadi maaf ya, sudah njelek-njelekin Melly” sesal Rika.
“Nggak apa-apa, aku juga salah membentakmu seenaknya.” Sahutku.
“Ikut aku yuk, ke Rohis (red:Rohani Islam) ada pengajian keputrian.” Ajak Rika.
Dengan malas aku menjawab, “Aku sudah janji sama Melly.”
“Temanya bagus lho buat kita, para remaja,” Rika tidak mau menyerah. “Maaf Rika, ini urusan yang sangat penting.” Belaku. Aku pun cepat-cepat pulang sebelum timbul pertengkaran lagi. Di jauh sana, aku pun tidak tahu, Rika melihat dalam diamnya dengan menghela napas, seperti berdo’a.
JJJ
Di rumah, Melly sedang menungguku dengan gusar, “Dari mana aja sih kamu? Sampai aku ngoyot nunggu kamu,” Ujarnya marah.
“Maaf, tadi ada sedikit masalah,” jawabku.
“Rika lagi?” tebaknya tepat. Dan aku tak menjawab.
“Sudahlah, nggak usah dipikirin…sekarang yang penting kita cabut yuk, konsernya sebentar lagi mulai nih….” “…..pulang nanti, shopping yuk!” rayu Melly. Aku mengangguk semangat.
JJJ
Di sebuah konser musik ternama, —-memperingati ulang tahun sebuah perusahaan merk rokok terkenal—-. Hingar bingar suara petikan gitar, dentuman drum beradu dengan stik drum, suara bass yang melengking bersatu padu dengan teriakan penonton, berisik semua gerakan. Tak peduli lelah yang merayap. Aku pun bergerak mengikuti alunan musik, Melly lebih heboh lagi. Dia menari dengan penuh semangat. Masa bodoh! Pikirku. Aku melihat jam tanganku, pukul 17.30 wib sudah Maghrib….nanti aja sholatnya…
Konser selesai jam 19.00. Sekali – kali sholat Maghribnya digabung sama sholat Isya, nggak apa-apa kan? pikirku nakal.
JJJ
Di sebuah Mall
Setelah sholat Maghrib, Aku dan Melly ber-shopping ria. Beli baju baru, beli CD MP3 My Chemical Romance, Muse, Jason Mraz dan menyewa beberapa film-film baru. Mampir sebentar di Kafe ah… 
JJJ
 Sesampai di rumah pukul 21.00 wib.
Memang pas dengan batas waktuku keluar rumah. “Dari rumah teman, Ummi, ada belajar kelompok.” Jawabku saat ditanya Ummi habis darimana. “Lain kali kalo belajar jangan sampai malam-malam, pamali,” saran Ummi.
Aku cuma mengangguk, Melly? dia cekikikan di sampingku. Aku terlelap dalam tidur, lupa belum sholat Isya’.
JJJ
Di kelas X-B, saat jam istirahat
Teriakan – teriakan dari kelas sebelah, tawa cekikan teman – teman tak menyurutkanku untuk membaca Komik Death Note. Aku berkonsentrasi membacanya, tak ayal aku tak sadar Rika sudah berdiri di depanku, memanggilku berkali-kali.
“Din…Dina!” panggil Rika.
“Eh…eh..ya?” aku gelagapan.
“Nanti mau nggak menemani aku ke Bazar Buku Islami di Kandat?” ajaknya.
Aku berpikir sejenak, “kapan?”
“Habis pulang sekolah nanti,” jelasnya.
“Wah, maaf nggak bisa aku,” tolakku.
“Ada janji sama Melly ya?” tanyanya dengan penuh memelas.
“Yups!” jawabku dengan bangga.
Lalu hening, seakan tak ada tawa dan cekikikan lagi, seperti terlempar ke dimensi lain. Lama sekali sampai aku mendengar nafas dan detak jantungku.
Kami sama – sama diam seribu bahasa. Aku kembali berkonsentrasi pada komikku. Lalu….
“Kamu berubah ya, Din?” tanya Rika blak-blakan.
Mengganggu konsentrasi membaca ja nih orang, aku upayakan untuk mendongak, peduli…penuh tanda tanya besar.
“Ya, kamu berubah 180°, nggak seperti dulu lagi….” aku berusaha memahami “….Biasanya kamu tidak menolak kuajak ke Bazar Buku, malah semangat…tapi, sekarang boro – boro semangat, megang buku Novel atau apapun nggak mau, bawaannya komik melulu…” sudutnya.
Aku tak peduli, kubiarkan dia melanjutkan, “Saat pelajaran Agama, kamu malah ijin sakit ke UKS,” imbuhnya.
“Gurunya kan memang nyebelin, forum diskusi malah tuh guru ikut campur, padahal kan forumnya anak-anak, seakan tuh guru keyakinannya selalu benar dan memaksa anak-anak ikut keyakinannya,” aku memberi penekanan pada beberapa kata-kata, mencoba membela diri, kubiarkan komikku tergeletak.
“Ya, aku tahu…teman-teman kita podho nggak senang ma tuh guru, tapi mbokjangan seperti itu….dan kamu berubah kayak gini sejak kenal dan berteman ma……Melly…”ujarnya hati – hati.
Aku tak habis pikir, “Rik!! Kamu jangan sok ngatur – ngatur aku yo…kamu tuh siapa? Abi? bukan, Ummi? juga bukan,” aku terbawa emosi. “Dan jangan nuduh Melly dong, kamu tuh ngaca, punya kaca nggak sih dirumah? Ngelarang aku sms-an ma Satrio, nggak usah sok suci deh!” Rika terkaget-kaget mendengar ucapanku.
“Ta…tapi, aku tidak bermaksud….”ucap Rika takut mendengar kemarahanku.
“Ah sudahlah! Muak aku! Kamu sama aja ma yang lain, ngatur – ngatur hidup orang, atur ja tuh hidupmu sendiri, orang tuamu, hidupmu juga semwrawutgitu…” aku lupa ini rahasia terbesarnya, orang tua Rika sudah bercerai.
“…..aku nggak mau berteman denganmu lagi!”ucapku kejam.
Aku mengambil tas dengan paksa, lalu pergi. Aku tak peduli, jam sekolah belum selesai, aku tak peduli mukaku semengerikan apa, aku tak peduli orang – orang di jalan melihatku. Aku muak dengan semuanya, aku benci! Biarlah Rika menangis, aku tak peduli. Titik!     
JJJ
“Hiks!hiks!hiks!….huwwaaaa….huwwwaaa….!!!”aku menangis tersedu – sedu di kamar, beruntung di rumah sepi. Tissue satu kotak sudah habis, basah penuh oleh air mata. Melly dengan cueknya menghias kukunya. Aku masih menangis.
“Ah! biarlah teman yang seperti itu, nggak usah dipikirin, kamu kan bisa nyari teman yang baru lagi, dan kamu juga masih punya aku,” ujar Melly niatnya menghibur.
Aku diam, kubiarkan dia nyerocos begitu aja.
“Di banding Rika, aku adalah sahabat yang baik, nggak suka ikut campur urusanmu, aku selalu membuatmu tak pernah bersedih….”
“….dia adalah teman yang menyesatkan bagimu, jauhi saja dia,” tambah Melly merayu.
Lalu, aku seperti melihat sebuah film, dan aku hanya tinggal menontonnya tanpa bisa melakukan apapun, termasuk menekan tombol Play pada Remote.Flashback apa yang kulakukan selama ini, dari kecil, saat aku bermain dengan Rika waktu umur 5 tahun dan kami terjatuh bersama, tertawa bahagia, lalu  pertengkaran kecil kami saat SMP karena aku ngeyel ingin nemenin Rika waktu orang tuanya bercerai, dan menginjak SMA, aku mulai mengalami akan perasaan yang kompleks, Falling in Love, malas belajar, mengamburkan – hamburkan uang, menunda – nunda Shalat dan semua ini gara – gara……
“Melly!!!” aku geram, film pun seketika berhenti.
“Hentikan semua perkataanmu tentang Rika!”
Melly terhenyak, “Hei! bukankah itu kenyataan?”
“Tidak! Rika tidak seperti itu,” jeritku   
“Ah, Munafik! sebenarnya kamu juga beranggapan seperti itu ta?” Dia tersenyum mengerikan.
Aku mengelak. Lagi – lagi flashback itu lagi. Kali ini aku melihat Abi dan Ummi menangis. Ya Allah! Maafkanlah aku….
Aku sadar, “Kamu sudah menyesatkanku, selama ini kau mengajakku ke arah yang tidak benar,”
Melly menolak tidak terima, “Hei! Bukankah itu yang kau inginkan? Beli CD MP3, alat-alat kosmetik, baju baru yang tidak mungkin dikabulkan Abi dan Ummimu yang sok alim itu,”
“Jangan menjelekkan orang tuaku!!!” Aku sudah nggak bisa menahan amarah ini. Aku mendorong Melly sampai jatuh terjerembab di depan meja riasku.
“Kamu juga lupa bahwa kita ini satu tubuh? Apa yang kulakukan, juga apa yang kau lakukan begitu juga sebaliknya, aku adalah kamu, dan kamu adalah aku!!” Melly menunjuk – nunjuk mukaku dan mukanya lalu menarikku ke cermin. Mirip!
Aku menolak, aku mendorongnya lagi, “kamu benar – benar menyebalkan, kamu menjauhkanku dari Allah!” aku mulai menangis.
  “Hei! Jangan sebut – sebut nama jelek itu,” pinta Melly “Oke deh, aku minta maaf tapi jangan sebut nama itu lagi ya? kita lupain ja masalah ini, oke Din?” Melly tersenyum menghibur.
“Benar! Kita lupain aja masalah ini….Karena aku akan menghentikannya!” ucapku gigih, aku menghapus air mataku dan mengambil Al-Qur’an yang sudah berdebu. Miris. Tahu gelagatku, Melly buru – buru menghentikanku. Aku tak peduli. Melly mencoba merebutnya dariku, tapi kutepis.
Melly tidak putus asa, ia mencoba mencakarku. Dan mencakar tanganku. Aku berusaha membaca Al – Qur’an.
Saat aku membaca Ta’awuds, Melly mulai menangis meraung-meraung. Mataku basah oleh air mata, berusaha menghilangkan perasaan kasianku, aku harus tetap membacanya ayat apa saja, aku mulai membaca Al – Baqarah. Melly sudah berteriak kepanasan. 
Tak terasa, bulir – bulir air mataku jatuh semakin deras, semakin aku terus melantunkan ayat suci Al – Qur’an, semakin tercium bau hangus terbakar. Bau yang memuakkan. Dan tangisan Melly hilang. Melly pun lenyap.
Alhamdulillah wa syukuurillah! Hatiku lega. Rasa kangen yang hilang telah terobati, perasaan yang kosong sudah terisi. Ya Allah, mengapa baru sekarang ini hidayah datang? Terngiang – ngiang ceramah pak Ustadz dalam pengajian yang terkahir kuikuti.
“….Al imaanu yazidu wa yanqhusu yazidu bit thaat wa yanqhusu bi maksiat…iman itu naik turun, naik karena ketaatan dan turun karena kemaksiatan.…”Aku mulai menangis lagi, aku jadi cengeng. Biarlah ini tangisan taubat, Insyaa Allah Taubatan Nasuha. Tapi, aku tahu Melly pasti akan kembali lagi, lebih keras usahanya. Ya, Allah semoga aku tetap Istiqomah di Jalan-Mu, Aamiin!



ditulis,dibuat oleh Jundina Syifa’ul M.
demi memenuhi tugas Bahasa Indonesian menulis cerpen
18/05/2009

                                     Di sebuah kamar, saksi bisu perjuangan

You Might Also Like

0 comments

About me

Mencintai Sipil dan Sastra sebagaimana mencintai suami dan anak meski belum punya.

Penggiat Senyum dan Kebahagiaan Ummi Abi

Civil Engineering 2011 | Brawijaya Malang University | Young Engineer at PT Hirfi Studio Engineering and Management Consultant

Blog : jun-syifa.blogspot.com
Twitter : @araleostrada
Instagram : @jun.syifa

Like us on Facebook

Flickr Images