Lembaran Biru

21:16

Malam menggigil ketika selembar kartu ucapan berwarna hijau muda menyembul keluar dari sela diary kecilku. Tulisan rapi berhiaskan tinta perak menyembul dari baliknya. Perlahan kuraba kata-kata mutiara penuh makna itu. Anganku mulai mengembara. Menyusuri jejak waktu yang hilang. Mengingatkanku pada kenangan empat tahun silam. Kenangan yang tak bisa terlupakan…..
     
      12 Juli 2005          
      Hola Dy, mungkin baru pertama kali aku corat-coret tubuhmu. Ya..tentu saja aku kan baru beli dirimu tadi siang diperempatan Jalan Yos Sudarso. And, aku juga baru tadi siang ngubur kakakmu ke kotak rahasia (ehm!). Kenalkan Dy, nama aku Adzkia Zahra, biasa dipanggil Ara.  Sering makai sarung tangan tebal tapi transparan. Biar kulit aku tak tersentuh oleh makhluk yang bernama ikhwan (yang bukan mahrom). Pakai jilbab lebar. Di lekukan bibir ada tahi lalat (tanda lahir). Jika menemukan orang ini harap hubungi nomor 0354 123456 (he..he..just kidding.) aku  baru lulus from SMP Islam Al-Fath. Sebentar lagi liburan berakhir, aku akan menikmati pemandangan baru di SMA 2 Pare. Doakan aku dapat inceran baru (Huss!), he..he..maksud aku teman baru, gitchu!

      14 Juli 2005
      SMADA, I’m coming. Waah, gaswat Pra-MOS diadakan selama tiga hari.  aku and anak-anak yang lain diperintah untuk berjemur,jongkok-berdiri and lompat kodok di siang bolong begini. Wuiih, meskipun capek aku kudu berjuang. Berjuang…!

      15 Juli 2005
      Hari Pra-MOS kedua, aku and anak-anak yang lain disuruh untuk meminta tanda tangan para senior-senior. Wuiih..banyak banget and tidak mudah untuk mendapatkannya,ada yang disuruh untuk nyanyi,nari and berjalan, maksudnya berjalan dengan tanpa dua kaki. Yaah, mirip-mirip suster ngelesot. But, untung yang jilbaber tidak diperlakukan gitu karena ada mbak Azizah, ketua kerohanian putri dan mas Azis, ketua kerohanian putra yang melarang seperti itu. Para senior-senior itu langsung keder sambil mengkeret. Mereka itu cukup disegani disini. Mereka saudara kembar tapi beda (jenis kelamin). Mereka tegas tapi bijaksana. So, para senior-senior langsung lari terbirit-birit. Mereka berdua benar-benar spiderman and spiderwoman aku. Meskipun begitu, kami para jilbaber tidak diam saja. Sebagai gantinya, kami disuruh untuk keliling lapangan basket 10x, menghitung berapa burung dilukisannya pak Naryo dan semut dipohon jeruk itu. Uuuh…sama aja, neng, kang !                                                                                       

      16 Juli 2005
      Syukurlah, ini hari terakhir Pra-MOS. Kemarin, kita disuruh memakai tas plastik hitam untuk hari ini, malu Dy, dilihat abang bakso dan bang becak. Yaah, namanya juga Pra-MOSnya SMADA, Pede aza lagi! Hore! Besok hari ahad, aku mau nyantai ah. Semoga hari ini cepat berlalu…

      18 Juli 2005 hari pertama MOS
      Uuhh..datanglah lagi hari ahad, jangan tinggalkan diriku…“Uaaah”kantukku mulai datang. “Huss! Ara, nggak sopan tau!”ujar salah seorang teman disampingku. Siapa sich yang pidato disaat orang lagi tidur. Oh, pak Kadi…ngomong apaan tuh, aku kagak ngerti. “Apa!” mataku jadi membelalak, beliau akan berpidato selama 24 jam (nggak ding!) maksudnya sampai tanggal 20 Juli. Uaaah!!!!!

      20 Juli 2005
      Ini hari pertamaku benar-benar mengecap bangku SMA. Eiit, tunggu dulu makhluk apa itu? Handsome and cool banget (es ngkali), rambutnya sengak mirip pohon cemara, sepertinya mirip…(masya Allah, muslimah koq jelalatan sich, istighfar ente). Terbuat dari apa yaa makhluk itu? Jadi inget tokoh Dira di cerita Dealova, tampan, cool and misterius, cuma ada tahi lalat dileher kanannya. Sepertinya, anak itu produk broken home.
      Oh, tenyata namanya Zeus, nama apaan, tuch! Namanya kayak babenya Hercules, dech! Eit, apaan-apaan nich ada seseorang yang narik tangan aku, nich. Aku kan baru keluar dari toilet, siapa sich? Masya Allah, Zeus! ngapain anak itu disini, didepan toilet anak perempuan lagi,     kan bisa timbul fitnah. Eh..eh..apaan-apaan lagi nich. Anak itu menarik tangan aku, nich. Toloooong! somebody help me!!! anak itu mau bawa aku kemana, nich. Oh, kebelakang gudang. Eeeh, mau ngapain, tolooong. Hooh…hooh…aku kecapean. Ssst..mereka nggak ada,kan? (emangnya ada apa, Us?) “gue…hooh..dikejar ama…guru tatib..hooh” ujar Zeus. “Ngapain juga ngajak aku!” semburku. “Nggak apa-apa, cuman ingin lihat aja lo kalo marah gimana, ternyata cantik juga.” Zeus tersenyum menggoda. “Plaaak!”aku tampar dia meninggalkan bekas merah dipipinya. And “Duaaak!” “Aduh, lututku.”dia meringis kesakitan. Aku menendang kakinya dengan keras tapi koq kena lututnya, sich. “Sampeyan pikir akhwat itu mainan, sampeyan itu benar-benar nggak sopan  dan nggak bisa hormat(menghargai) akwat dan..sampeyan durung weruh materi Ghodul Bashar, ya!” semprotku. Waah, keluar juga logat jawaku.
     
      Masih 20 Juli 2005. Tapi malam.
      But Dy, dia benar-benar keterlaluan lho, masa akhwat sama ikhwan tidak dibedain sich.            
Boro-boro, mending curhat ama mbak Azizah. Oh,ya! aku belum cerita kalo mbak Azizah adalah kakakku. Kemarin kan sudah aku ceritain kalo mbak Azizah mempunyai saudara kembar yaitu mas Azis. So, mas Azis juga kakak aku. Mbak Azizah lahir cuma beda satu menit saja sama mas Azis. So, lebih tuaan mbak Azizah, dong. Mbak sekolahnya sama denganku tapi dikelas XI-IA-1. Yaahh, beda satu tahun lah! Kalo mas Azis kelas XI-IA-1 juga tapi sekarang doi lagi meringkuk terbang kealam mimpi. Baru juga pukul 20.00.Dasar tukang tidur!!!
      Koq, jadi ngelantur kemana-mana, sich. Akhirnya aku cerita dari A-Z sama mbak Azizah, Mbak Azizah cuma manggut-manggut saja, aku cuma bisa menghela napas. “Buka suara dong, mbak, jangan-jangan ketularan sama Roy Hin, tetangga sekaligus temanku dari keluarga Tionghoa yang sering main kesini. Anak itu Leo (lemah otak) sama bunget, tapi dia cerdas dalam pelajaran menghitung dan dia baik banget sering ngasih coklat (makanan kesukaanku) padaku.” mangkelku dalam hati. “Mbak akan diskusikan hal ini dengan Azis.”singkat mbak Azizah. Syukur, Alhamdulillah segala puji bagi Allah tuhan semesta alam kakakku tidak leo dan bunget. Aku langsung sujud syukur (nggak sampai gitu, ding!).

      21 Juli 2005
      Waah, selebaran apaan, nich “Jika ente-ente tidak mau disebut sebagai manusia kuper, datang aja pada tanggal 23 juli bertempat di masjid Al Furqon (pukul 06.00-selesai). Tema tentang bagaimana Islam menghargai wanita dengan berpakaian muslimah. Jangan lupa ya..”
      Uuuh…bohong! uhh…bete! Katanya mau bantu, koq gini sich! Seharusnya temanya jangan itu, Ghodul bashar, kek! Pergaulan dalam Islam ,kek! Uuuuhhhh, bohoooong!  

      23 Juli 2005
      Subhanallah, lumayan ternyata ramai juga, ya. Berarti Rohis cukup digemari banyak orang. Tempat duduk pun terpisah. Syukurlah..
      “…Jadi, kita jangan sampai melihat beratnya pakaian muslimah seperti gerah, ndeso, merasa terkekang dan kampungan. Semua itu tak ada artinya dengan keuntungan memakai baju muslim. Selain wajib, dengan berpakaian mulimah akan memperjelas identitas kita sebagai seorang muslimah dan kita juga terhindar dari tangan usil dan jahil. Bagaimanapun juga, seorang muslimah yang telah memakai jilbab itu lebih baik daripada yang belum memakai jilbab, karena jilbab dan pakaian muslimah adalah simbol ketaqwaan seorang muslimah kepada Allah swt.” begitu uraian dari pak Ustadz.
      “Ehm, saya mau tanya?” seru seseorang secara tiba-tiba. “Oh ya, silakan ukhti !” seru pak Ustadz. Lho. Itu kan si Zeus! aku nggak heran kalau dia nanya. Tapi, koq dia dipanggil ukhti, sich! Apa jangan-jangan dia…..ah, mana mungkin.
      “Bagaimana kalau kita jadi nggak mau pakai jilbab karena resiko yang berat itu? Seperti dilarang oleh orangtua, nggak boleh pacaran tapi shalatnya harus lancar ngajinya juga.” lanjut Zeus. Ustadz tersenyum. Subhanallah…ternyata dia bisa ngomong seperti itu juga.
      “Itu menandakan kita tidak takut pada Allah swt. Kita belum merasakan begitu dekat, cinta dan dicintai kepada Allah swt. Maka apapun yang diperintah dan dilarang-Nya akan kita taati tanpa perlu memilih dan menimbang-nimbang dahulu, agar kita menjadi dekat, cinta dan dicintai oleh Allah swt. Kalau berbeda pendapat dengan orangtua, seperti dalam surat Al Luqman ayat 15 yang artinya dan jika kedua orangtuanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik. Taat kepada orangtua dalam semua perintah dan larangan keduanya, selama di dalamnya tidak terdapat kemaksiatan kepada Allah, dan pelanggaran terhadap Syariat-Nya, karena manusia tidak berkewajiban taat kepada manusia sesamanya dalam bermaksiat kepada Allah swt…..”   
      Pulangnya, “Braak!” “Oh, nyuwun pangapunten, neng.” ujar perempuan tua itu. “Tidak apa-apa koq, Bu.” jawabku. Yaah, meskipun bajuku kena jamu, kasihan ibu itu sudah tua (sudah nenek-nenek) masih jualan. Kemana anaknya ibu ini? Masa’ ibu sendiri di suruh jualan sendiri (Huus! Tak boleh Su’udzon). “Ke rumah saya dulu aja, neng. Nanti saya cucikan baju, eneng.” sahut ibu itu. “oh ndak usah, Bu. Terima kasih,Bu. besok seragam ini tidak dipakai lagi koq, Bu.”tolakku dengan sopan. “Nggak apa-apa koq, neng. Besok kan hari minggu, nanti saya merasa menyesal.” Aku jadi merasa bersalah. Meskipun begitu, aku akhirnya mengikuti ibu itu juga kerumahnya. Waah, rumahnya cukup besar dan megah. “Ini rumah majikan saya, kalau rumah saya ada di belakangnya.”ibu itu menjawab keterkejutanku.  hi..hi..jadi malu, sepertinya ibu itu tahu apa yang sedang aku pikirkan. Aku disuruh ibu itu memakai baju anaknya, bagaimana bisa nolak? Kalau menolak aku harus pakai apa. Sambil menunggu, aku membaca buku fiksi yang jumlahnya banyak banget dirumah majikan ibu itu “Assalamualaikum!”sepertinya aku mengenali suara ini. “Ze..us!”seruku. “Kamu…koq ada disini, sich. Mau memata-matai aku,ya!”dia juga balas terkejut. “Ih, GR banget,sich!” Mangkelku dalam hati. “waalaikumussalam. Oh, non sudah pulang yaa! Saya siapkan makan siangnya dulu, ya Non”. Ibu itu pergi kebelakang.
      “Tunggu!” Zeus menghentikan langkahnya kedapur. “Ada apa?”tanyanya dengan sinis. “Tolong jelaskan apa maksudnya dirimu dipanggil Ukhti atau non?”tanyaku dengan beruntun. “Ha..ha..ha..kamu nggak bego,kan? kalau dipanggil begitu aku perempuan, dong. Dasar bego!”aku jadi takut untuk bertanya lagi.
      Habis makan siang, dikamarnya Zeus dia bercerita banyak tentang dirinya dan keluarganya. Sebenarnya nama aslinya Afifah Nur, karena dia sering lihat film Hercules dan yang namanya Zeus itu bisa berbuat apa saja tanpa larangan siapapun, aku hanya bisa mengurut dada dan berighstifar. Dia mempunyai adik perempuan namanya Ainaya Nur. Suatu hari dia memakai jilbab lebar seperti aku, Ifah atau Zeus juga ingin seperti adiknya anggun, damai dan lembut. Tapi, suatu hari orangtuanya memergoki adiknya memakai jilbab itu. Semua jilbabnya dibakar dan disobek-sobek, Al-Qur’annya dibuang, adiknya hanya bisa tersenyum sabar. Ifah tidak bisa berbuat apa-apa. Ketika dia ingin membantu adiknya, dia terkena pukulan dipunggungnya. Aku hanya bisa mengucap sabar dan istiqomah saja. Karena tidak tahan, ia melarikan diri ke suatu tempat (katanya panti asuhan). Setelah kejadian itu, orangtuanya jadi tidak semakin peduli dengannya maupun adiknya. Tiba-tiba, ia mendengar kabar dari salah seorang teman dekat adiknya kalau adiknya sudah meninggal karena kecelakaan motor tanggal 2 September lalu. Pada saat pemakamannya orangtuanya tidak hadir, Ifah jadi semakin benci pada orangtuanya dan para jilbaber serta Allah swt. Setelah bertemu dengan ibu tua itu, marahnya mulai surut. Apalagi saat bertemu denganku, dia jadi ingat sama adiknya karena sifat dan wajahnya mirip dan ketika mendengar uraian dari pak Ustadz, tadi siang. Ketika dia pulang, dia mengambil surat dikotak pos dan mendapat surat dari pengurus panti asuhan Islam kalau dia diminta oleh adiknya untuk menggantikan dirinya untuk turut serta mengasuh anak-anak panti asuhan.
      Malamnya, aku ceritain semuanya kepada mbak Azizah sama mas Azis. Mbak Azizah cuma manggut-manggut saja, mas Azis lebih parah dia berkali-kali menguap. Aku juga marah sama mereka koq tidak kasih tahu kalau Zeus itu perempuan. Mas Azis malah ngomong gini “Makanya gaul dong, masa’ cuma gaul ama buku-buku jelekmu itu!” Iihh, jahat!!!!! aku mukul mas Azis pakai bantal dan guling, mbak Azisah cuma senyum-senyum doang. Ya, Allah semoga keakraban dan keceriaan kami tidak berakhir. Amiiin!

24    Juli 2005
      Horeee! asyik hari minggu aku mau beres-beres rumah dan…..baca buku,dong! “Kriiiing!” bunyi apaan, tuh. Yang jelas bukan suara bang bakso dan bang becak. Oh, suara telepon. Aku bergegas mengangkat telepon “ Assalamualaikum, halo siapa ini? “Eci, om.”jawab suara diseberang. “hallllo, jangan bercanda ya!!” “Ha..ha..sori, ini aku Ifah kamu mau nggak kuajak ke suatu tempat.” “Ke mana?” “Ada deh! ku tunggu di depan rumahmu, yaa.” “Eh, tunggu..” Tuuuut! yah, sudah ditutup, aku mau ganti baju dulu. Ning..nong..cepat banget,sich! “Iya, bentar.” Subhanallah, dia pakai jilbab kaos lebar. “Kita mau kemana?” tanyaku lagi. Dia diam saja. Motor pun melaju dengan kencang.
      Aku membaca papan didepan rumah tua itu “Panti Asuhan Aminah”. Aku mengerti kalau dia menyanggupi permintaan adiknya. Disana banyak sekali anak perempuan kecil berlarian dan bermain, ada anak yang berkata begini “Kakak ini wajahnya mirip banget laki-laki beda dengan kakak disampingnya yang anggun itu(sambil nunjuk aku)” aku tersenyum melihat Ifah mukanya merah karena malu. Ifah mengajar anak-anak itu penuh semangat.
      Pulangnya, di taman.. “Selamat, yaa” ujarnya, “perasaan hari ini bukan hari spesial, dech.”pikirku. “Ini sebagai tanda terima kasihku padamu tolong dijaga ya.” aku membukanya, isinya adalah sebuah kotak musik dengan kartu ucapan berwarna hijau muda, indah sekali. “Aku ingin melanjutkan keinginan adikku…dan aku ingin kau jadi sahabatku” aku cuma mengangguk. “Ngomong-ngomong, tolong ajari aku pakai jilbab kain sepertimu, dong!” Subhanallah, kali ini aku tersenyum bahagia.

25    Juli 2005
Aku terdiam lama sekali saat mendengar bahwa Ifah meninggal. Ya Allah, ternyata maut begitu dekat. Menurut sepengetahuan ibu tua itu, karena tidak sabar ingin memakai jilbab, dia pergi sendiri naik motor ke toko pakaian muslimah dan membeli jilbab. Tanpa ia sadari, dari arah kanan truk sedang melaju kencang dan menghantamnya. Nyawanya tidak dapat tertolong lagi. Setetes darah menghiasi jilbab biru muda yang dipeluk oleh seorang gadis berwajah cowok. Bertahi lalat di leher. Tapi, seulas senyum menghiasi wajahnya yang terbujur kaku.

Aku menatap kembali diary lamaku. Membuka kembali kartu ucapan yang sudah lecek karena sering kubaca, memahami makna dari sederet kata mutiara yang tertulis disitu. Kalimat yang tertulis……
“Sahabat sejati adalah seseorang yang manakala kita tegak, ia tegak di samping kita, dan manakala kita lemah dan sakit serta nyaris terjatuh, maka ia akan mengingatkan dan menopang kita” terima kasih banyak, Ara…..kau mau menjadi sahabatku yang mau mendengarkan ceritaku. (Ifah/Zeus wanita yang ingin berhijrah.)
Air mataku menetes tepat di atas tulisan (Zeus…). Tidur yang nyenyak ya, Ifah…. Semoga kau bahagia dan tenang dialam sana.    
                                                                             
                                                                             
Juara 1 

Lomba membuat cerpen waktu KTS Semester 1 kelas 1 SMP

You Might Also Like

0 comments

About me

Mencintai Sipil dan Sastra sebagaimana mencintai suami dan anak meski belum punya.

Penggiat Senyum dan Kebahagiaan Ummi Abi

Civil Engineering 2011 | Brawijaya Malang University | Young Engineer at PT Hirfi Studio Engineering and Management Consultant

Blog : jun-syifa.blogspot.com
Twitter : @araleostrada
Instagram : @jun.syifa

Like us on Facebook

Flickr Images