P.I.L.I.H.A.N

06:35

Pertanyaan yang akan sering kau dapati dalam kedewasaan, Pilihan itu adalah pilihanmu karena hidup itu juga adalah hidupmu? Semoga Allah senantiasa membimbing kita dalam memilih......


Notes by Galuh Kusumo - Airlangga University
Ada dua kakak laki-lakiku, bapak serta ibu yang duduk bersama satu meja. Demi Allah aku mulai lupa kapan terakhir kali kami duduk bersama dan membincangkan tentang kehidupan atau masa depanku dan kakak-kakakku. Mungkin sembilan tahun yang lalu saat aku masih duduk di kelas dua SMA. Selama itu, sering ibuku memilih untuk meyingkir dan membiarkan kami para lelaki berceloteh dengan pendapat-pendapat kami, mengadu atau berusaha menyelaraskan ego-ego kami yang sangat besar. Atau sekedar mendengarkan isi kepala bapak yang tak mampu kami tolak. Bahkan akhirnya kakak sulungku mulai angkat bicara tentang pilihannya untuk memilih masa depannya sendiri. Dan akhirnya pula, sejak saat itu semua keluhan dan harapan masa depan yang diinginkan bapak mengucur deras ke telingaku.
           Ibuku sosok wanita yang sederhana, lugu, pendiam, sabar, sungguh sosok yang mampu membuatku tenang saat beban-beban berat yang aku tanggung saat menghadapi ego bapak yang tinggi atau kerasnya pengajaran darinya.
           Namun, Ibu lebih memilih untuk diam dan membiarkan bapak mengambil peran dalam menanamkan kedisiplinan dan ketangkasan dalam bekerja. Tak jarang pula ibu memilih untuk diam saat tensi pembicaraan kami dengan bapak mulai naik. Terakhir aku mulai menyadari bahwa ibu hanya akan angkat bicara saat keputusan yang sangat penting akan diambil. Ya... mungkin sekarang ini saatnya.
           Masih kulihat bekas-bekas ego yang tinggi di mata bapak, walaupun itu sudah sangat berkurang saat ketiga anaknya sudah lulus kuliah dan sudah bekerja, termasuk aku. Kulihat pula ego yang tersembunyi di balik ketegasan kakak sulungku Garin. Ataupun ego yang selalu meluap-luap di samping pemberontakan yang selalu ditunjukkan kakak keduaku, Nawi. Sedangkan aku sendiri, ego itu kutumbuhkan subur bersama idealisme ku untuk menurut pada kedua orang tuaku, agar mereka merasa tenang dan bahagia. Setidaknya agar mereka merasa masih ada satu anaknya yang menurut pada mereka.
          Perdebatan ini terasa akan berakhir lebih lama dari yang kuharapkan. Dan seperti biasa, ibu masih memilih untuk diam dan menjadi pendengar yang baik. Aku sendiri masih menirukan ibuku, diam. Dan menatap mata ibu untuk mengintip sedikit ke dalam pikirannya.
         Ketenanganku akhirnya terusik saat adu ego itu pada gilirannya menyeretku masuk. Sesak dada ini terasa, hingga kudapati bayangan kepribadianku sendiri hadir di sampingku, memegang pundakku dan mulai menguatkan batinku.
         "Galuh, kamu sosok yang kuat. Kamu pasti bisa menghadapi ini semua. Dan aku yakin, suatu saat kau akan mendapatkan kebebasan seperti yang kau inginkan selama ini.Kau akan menjadi orang besar. Jangan perdulikan pendapat keluargamu yang menganggapmu anak gagal.

           "Tapi kau juga dengar kan kemarin saat Mizan bercerita tentang mas Farhan. Dia sudah sukses di usianya yang ke 26, kau lihat juga Ammar yang telah menjadi PNS atau teman-temanku yang lain yang sudah berpenhasilan 3 juta lebih. Sedangkan aku, masih juga dengan penghasilan kecil. Gajiku cuma cukup untuk kebutuhan hidupku sendiri. Bahkan biaya kuliah S2 masih di support ibu."

         Kemarahan terlihat dari bayanganku.
         Bahkan bayanganku sendiripun marah denganku. Kurasakan tamparan keras di relung hatiku saat batinku berkata "Apa harga dirimu cuma bisa dihargai dengan uang?"
         Kulihat bayanganku dengan pandangan kasihan, berjongkok di hadapanku. "Kau tak serendah itu Luh. Kau ingat, dulu saat kau masih SMP?! Fisikmu sangat lemah. Aku masih ingat waktu itu, kau... dan aku mencari jerami bersama untuk pakan sapi. Mulai dari  menjemurnya, mengumpulkan belasan hingga puluhan ikat. dan mengangkatnya satu persatu dan kita bawa pulang. kau ingat berat tiap ikatnya? sebanding dengan berat badanmu. Dan masih saja kau lakukan walaupun asmamu sedang kambuh. Kau lakukan demi mereka, bapak dan ibu."
        "Apa kau juga ingat saat pertama kali kita di surabaya? Bapak berpesan agar kau bisa sering mengontrol kelakuan kakakmu Nawi. Tapi kita semua tau, yang ada hanya sakit hati yang kau dapatkan. Tapi tetap saja kau turuti permintaan itu, demi apa? Karena kau sangat ingin menurut pada bapakmu. Apa pantas semua usaha itu hanya kau hargai dengan uang?"

         "Itu semua sama sekali berbeda." Aku berusaha membela diri. Mungkin ini bodoh, berdebat dengan bayanganku sendiri, cerminan diriku sendiri.

         "Kau masih juga bodoh, Luh. Kau tak ingat bagaimana beratnya beban kita saat kuliah dulu. Kita berdua pernah memegang uang Rp. 733.000 sedangkan kita harus membayar SPP Rp. 730.000. Hanya Rp. 3.000 yang kita pegang selama seminggu untuk hidup. Apa yang bisa kita beli untuk hidup seminggu dengan uang segitu? Tapi kau mampu membuktikan padaku, kita bisa hidup sampai sekarang. Dan kau tak sekalipun meminta tambahan pada bapak dan ibu, atau meminta pada mas Garin atau pinjam ke teman-teman. Sedangkan Farhan, kau dengar sendiri kan? Dia anak orang berada. Usahanya dimodali orang tuanya saat dia masih SMP. Kita??? Rp. 500 yang kau dapatkan untuk uang jajan dua hari. Kalau kau iri dengannya, usaha apa yang bisa kau lakukan dengan uang segitu? Kau kumpulkan? dan akhirnya setelah terkumpul Rp. 20.000 apa yang terjadi? kita harus merelakan untuk tambahan belanja ibu. dan terus terulang seperti itu."
          "Kau lebih hebat dari Farhan, Luh. bahkan sejak dulu."
          "Kenapa? kau masih tak percaya padaku? Aku sudah bersamamu sejak kau lahir, dan aku tahu semua tentangmu. Kau orang hebat yang layak membuat keputusan dan layak memilih."

          "Ini bukan sekedar tentang pilih memilih atau membuat keputusan. Kau bilang kau memahamiku dan kau masih juga belum paham diriku." Sangkalku.

           "Lalu tentang apa? prinsipmu untuk mencari ridlo orang tuamu, agar kau bisa bebas melakukan apapun yang kau inginkan setelahnya? Basi... Kau sudah melakukannya setiap hari sejak 17 tahun yang lalu."
          "Kau tentu masih ingat tiga tahun yang lalu kau ditertawan semua orang di rumah, bahkan keluarga besar pun menertawakanmu saat kau bilang ingin menikah karena ada yang melamarmu untuk anaknya. Dan kita berdua diam dengan semua ejekan itu. Yang anak ingusan lah, yang dibilang cuma bisa ngasih makan kerikil lah. Kita diam karena kita tahu kita belum lulus S1 dan tak punya penghasilan untuk menghidupi keluarga. Tapi setidaknya kau sudah membuktikan dengan prestasimu mampu mewakili kampus untuk ikut seminar internasional di Malaysia. Tak main-main, oral presenter Luh, dan free of charge malah dapat uang saku."
           "Tahun lalu saat kau belum juga lulus. Bapak dan ibu berharap kau bisa bekerja sambil meneruskan kuliah S2. dan kau pun sudah mendapatkan pekerjaan sebelum lulus kuliah. ya... walaupun hanya cukup untuk menolak support biaya hidup dari ibu."
           "Lalu di awal tahun ini penghasilanmu sudah mencapai 2,3 juta bahkan lebih. kau satu-satunya anak yang masih memberikan uang pada ibumu walapun hanya 100 atau 200 ribu atau kadang kau memberikan dua kali lipatnya. Tiap bulan... Kakak-kakakmu? tak ada satupun yang memikirkannya. dan kau tahu, tanpa kau beri pun tak masalah bagi mereka. Kau hanya berpikir bahwa dengan begitu kau bisa sedikit membalas budi orang tuamu dan menunjukkan perhatianmu. Bahkan bakpia seharga Rp. 2000 yang kau beli di kereta, yang tak kau makan dan kau pilih untuk membawanya pulang untuk kau makan bersama bapak dan ibu, itu sudah cukup membuat mereka sadar bahwa kau sangat mencintai dan memperhatikan mereka."

            "Itu belum cukup."

             "Kau masih juga menyangkal. Apa lagi yang kurang? Kau sudah cukup berkorban buat orang tuamu. Sekarang pikirkan hidupmu sendiri!! Dan kau sudah memulainya saat keluar dari tempat kerjamu yang pertama, karena merasa yakin gaji dari menjadi Apoteker penanggung jawab apotek di kota kelahiran kita cukup untuk banyak hal. Walaupun cuma 1,7 juta. Dan kau buktikan padaku kau bisa menggaji satu karyawan magang dan masih juga bisa menyisihkan sedikit uang untuk ibumu dan itu lebih banyak dari sebelumnya, bahkan dua kali lebih."
            "PIKIRKAN HIDUPMU SENDIRI.!!! KAU SUDAH MEMULAINYA.!!! tinggal kau teruskan."
            "Atau ini semua tentang kedewasaan? Kau cukup dewasa. Kita berdua paham bagaimana bejatnya kita dulu, betapa tak bertanggung jawabnya kita dulu pada diri kita sendiri dan masa depan kita. Tapi kita sudah berubah. Kau sudah berubah. Kau dulu yang terbata, mengeja huruf demi huruf Al Qur'an, kini kau bisa mengajar baca Quran pada orang lain. Kau bahkan menjadi salah satu penghafal Quran. Dan kau tahu, kau satu-satunya di keluarga besarmu yang melakukannya."
            "Tak akan ada yang menyalahkanmu jika kau punya pilihan sendiri. Lakukan sekarang atau kau tak akan pernah bisa memilih sendiri."

            "Awakmu piye Luh? (bagaimana denganmu Luh?)" Suara Bapak, memecah sosok bayangnku sendiri yang mencecarku dengan berbagai pandangan.
            "Kulo... nderek ibuk mawon pak (saya... ikut ibu saja pak)" Jawabku pelan.
             Ibu mulai angkat bicara, "Yo wes... ibu karo Galuh manut bapak."

             Dan akhirnya kakakku Garin menyimpulkan hasil adu ego kami. "Mbak, pesen ikan bakar saus tiram dua porsi, cah kangkung tiga porsi, ayam saus teriyaki dua porsi. Minumnya juz mangga tiga, juz alpukat satu dan juz jeruknya juga satu. Nanti kalau ada tambahan saya panggil lagi."

             Di luar jendela kaca rumah makan itu, kulihat bayanganku berdiri dengan tersenyum dan berkata "Kau sudah memilih Luh, untuk menuruti orang tuamu dibadingkan menurut padaku. Aku tak akan menyalahkanmu. Kau sudah dewasa."

You Might Also Like

0 comments

About me

Mencintai Sipil dan Sastra sebagaimana mencintai suami dan anak meski belum punya.

Penggiat Senyum dan Kebahagiaan Ummi Abi

Civil Engineering 2011 | Brawijaya Malang University | Young Engineer at PT Hirfi Studio Engineering and Management Consultant

Blog : jun-syifa.blogspot.com
Twitter : @araleostrada
Instagram : @jun.syifa

Like us on Facebook

Flickr Images