Biarlah Allah Berbicara

21:03


Andina Syafrina
----sebenarnya masih banyak ni penjelasan dr Ust. Didik (Dosen agama islam an di Politeknik) tentang "Biarlah Allah berbicara". Semoga bermanfaat....

Saat rencana telah dirancang, usaha telah dilakukan dan sebab-sebab telah dilakukan, maka biarlah Allah yang berbicara. Allah tidak melihat hasil apa yang kita raih, tapi proses yang kita lakukan.

Saat ujian sedang mendera, badai sedang menerjang dan ujian sedang mengguncang, maka biarlah Allah yang berbicara.

Saat kenyataan tidak sesuai harapan, impian tinggal sebuah kenangan, saat cita-cita pupus di tengah jalan. Maka, biarlah Allah yang berbicara. "Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (Qs. Al baqarah: 216)

Pilihan Allah terbaik, keputusan Allah terindah
"yaitu ketika Kami mengilhamkan kepada ibumu suatu yang diilhamkan (38). yaitu, Letakkanlah ia (Musa) didalam peti, kemudian lemparkanlah ia ke sungai Nil, maka pasti sungai itu membawanya ke tepi, supaya diambil oleh (Fir'aun) musuh-Ku dan musuhnya. Dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-ku; dan supaya kamu diasuh di bawah pengawasan-Ku" (39)

Kadang, logika kita sebagai manusia tidak sampai untuk mengetahui bahwa pilihan Allahlah yang terbaik, dan keputusannya yang terindah. Dan utk itu, dibutuhkan kekutan iman dan keyakinan yang mendalam kepada Allah. Lihatlah bagaimana keyakinan yang luar biasa ditunjukkan Ibu Nabi Musa. Bahwa keputusan Allah lah yang terbaik. Kalau bukan karna keyakinannya yang kuat kepada Allah, secara logika manusia, tidak ada yang bisa memastikan seorang anak kecil yang dihanyutkan di sungai akan selamat, bahkan akan ditemukan dan dpelihara oleh orang yang ditakuti (Fir'aun). Tapi semuanya mungkin bagi Allah, maka biarlah Allah yang berbicara.

Sama ketika Allah memberikan keputusan-Nya dengan mengilhamkan kepada Rasulullah untuk menyetujui Perjanjian Hudaibiyah yang salah satunya mereka dilarang untuk berhaji pada tahun itu. Padahal perjalanan haji itu sudah sangat ditunggu2 oleh para sahabat, untuk mengobati kerinduan mereka pada kota kelahiran mereka-Makkah. Keputusan yang begitu berat bagi para sahabat. Bahkan Umar bin Khattab pun meragukan atas keputusan itu. "Benarkah ini keputusan dari Allah, bukan semata keputusan pribadimu wahai Rasulullah?". Allah mengetahui apa yang kalian tidak ketahui. Dan ternyata, setahun kemudian mereka tidak hanya dapat berhaji ke Makkah, tapi Allah juga menghadiahkan Makkah untuk mereka (Takluknya Makkah).

Maka, mari kita jadikan firman Allah berikut sebagai Syair kehidupan kita
"Kelak kamu akan ingat kepada apa yang kukatakan kepada kamu. Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya".

You Might Also Like

0 comments

About me

Mencintai Sipil dan Sastra sebagaimana mencintai suami dan anak meski belum punya.

Penggiat Senyum dan Kebahagiaan Ummi Abi

Civil Engineering 2011 | Brawijaya Malang University | Young Engineer at PT Hirfi Studio Engineering and Management Consultant

Blog : jun-syifa.blogspot.com
Twitter : @araleostrada
Instagram : @jun.syifa

Like us on Facebook

Flickr Images