C.I.N.T.A (2)

20:52

Cinta itu senyata udara. Tidak dapat dilihat secara langsung, tapi butuh pernak-pernik lain untuk memperlihatkannya. Seperti balon yang ditiup akan membesar, karena kita tahu ada udara didalamnya. Ya, seperti itulah cinta, butuh pembuktian atau media lain untuk memberitahu keberadaannya.

Aku tahu cinta itu ada. Bukan kontroversi apalagi opini. Bahkan orang-orang lebih mempercayai cinta itu ada, daripada Tuhan itu ada. Iya cinta itu ada. Dan semua orang punya cinta. Aku pun punya cinta. Untuk kamu. Kamu juga punya cinta. Untuk dia.

Hati itu ibarat rumah yang kita tidak tahu dimana letak pintunya.
Karena meski merasa sudah menutup pintunya rapat-rapat tetap bisa dimasuki seseorang. Entah apa yang ditutup tadi, jangan-jangan baru jendelanya.
Kadang pula, merasa sudah menguncinya, bahkan hingga dikunci gembok sekalipun, tetap saja ada yang bisa masuk. Tidak tahu, jangan-jangan kita tadi malah mengunci lemari? Aduh.
Bahkan saat kita benar-benar memastikan hati itulah yang dikunci dan kuncinya dibuang di laut sekalipun, masih ada saja dia yang dapat merangsek masuk. Jangan-jangan itu tadi pintu belakang, sedangkan pintu utamanya masih dibuka lebar-lebar.
Entahlah… Hati memang ibarat rumah yang tidak kita tahu dimana letak pintunya.


Perasaan yang Tak Diungkapkan
Sejujurnya, bila kita suka dan tidak diungkapkan apa kita akan tersiksa? Iya mungkin, tapi kita tidak akan mati akibat siksanya.
Orang-orang bila merasa perutnya sakit ingin pup, setahuku juga tidak mengungkapkan dengan terang-terangan. Mana ada orang ingin pup mengundang wartawan, ambil toa lalu mengumumkan akan hasrat perasaan kebeletnya.
Tapi, bila hatinya merasa ada yang aneh, seperti ada bunga berguguran, kebelet sekali ingin mengutarakannya.
Em… selama manahan pup lebih menyiksa, kita tidak usah buru-buru mengutarakan kata “aku sayang kamu”, kita pikir dahulu, uji dengan waktu, bertahun-tahun kalau perlu, inikah perasaan yang serius atau hanya asmantara sementara.
Kenapa tidak boleh buru-buru?
Karena harus ada bedanya antara perasaan suka dengan perasaan ingin pup.

Aku ini banyak menargetkan “apa yang akan didapat” tapi jarang mencita-citakan “apa yang akan dikurangi”, seperti mengurangi sifat egoisku, mengurangi sering berbohongku dan lainnya. Padahal, itu sama pentingnya dengan menargetkan apa yang akan didapat.
Menargetkan akan membeli laptop baru misalnya, jika sifat-sifat buruk itu tidak ditargetkan untuk dikurangi, maka bisa saja jalan yang ditempuhnya adalah mencuri.
Ya! mungkin koruptor timbul karena mereka hanya menargetkan “apa yang akan didapat” tapi melupakan “apa yang akan dikurangi”. Sekian.

Nasehat dari Mana-Mana
Ibuku tidak begitu pandai ilmu kehidupan, tidak pandai membuat kalimat, maka kadang saat ibuk menasehatiku di kuping kiri justru keluar lagi lewat kuping kanan.

Bapak juga, kita sering bercakap-cakap tapi sumpah, ketika bapak menasehati hanya begitu-begitu saja nasehatnya dari aku kecil hingga dewasa.

Artinya keluargaku biasa-biasa saja.  Yang tidak puitis, jauh dari kreatif, apalagi membuat album lagu bersama, mengingat kualitas suara satu keluarga, itu mustahil. Kami memang punya album, album foto yang dari dulu tidak penuh-penuh karena kami jarang foto.

Tapi hebatnya, saat aku SMP, Allah mengenalkan aku pada buku-buku. Ya, mulai dari situlah aku suka membaca dan menggilai buku (dengan genre tertentu), banyak nasehat-nasehat dan kata bijak yang aku dapat.

Kesimpulannya, keadaan keluarga tidak begitu berpengaruh pada apa jadinya kita di masa yang mendatang. Tetap kualitas diri sendirilah yang menentukan. Semangat adik-adikku:)

You Might Also Like

0 comments

About me

Mencintai Sipil dan Sastra sebagaimana mencintai suami dan anak meski belum punya.

Penggiat Senyum dan Kebahagiaan Ummi Abi

Civil Engineering 2011 | Brawijaya Malang University | Young Engineer at PT Hirfi Studio Engineering and Management Consultant

Blog : jun-syifa.blogspot.com
Twitter : @araleostrada
Instagram : @jun.syifa

Like us on Facebook

Flickr Images