Layang Barzah Untuk Kakek

12:31

Layang Barzah untuk Kakek
Oleh Jundina Syifa’ul Mujahidda
Dimuat di Majalah SOLID Edisi 53/2014

“Kok durung turu, le?” kata simbah sambil menyentuh pundakku dengan lembut dan sayang.
Aku nggak dengar. Tetap saja menulis.
le, turu kono. Sisok awakmu lo kuliah, engko telat yak opo?” ujar simbah lagi.
mangke mawon mbah, kulo badhe ngrampungne layang  kambek ngenteni malaikat post”
opo kuwi malaikat post, le?”
Aku yang sedari tadi sibuk menulis, berhenti sebentar. Menjelaskan ke simbah.
“malaikat pos mbah, kulo badhe ngirim layang datheng mbah kung, Meniko layange mbah, Insyaa Allah bentar lagi malaikat pos datang" ujarku girang.
Simbah bingung dengan jawabku, mukanya berkerut-kerut yang semakin menambah kerutan di wajah tua simbah.
“Gini lo mbah kan bentar lagi 10 November mbah, hari Pahlawan. Aku mau ngirim layang ke kakek, nanyain kabar, dan  ngasih tahu kabar disini. sokor-sokor ketemu Bung Tomo. Aku ngefans sama beliau mbah.”
Bapak yang sedari tadi diam membaca surat kabar tentang korupsi para pejabar dan pembuatan video mesum ABG melengos keras.
“Le, awakmu gendeng ta? awakmu kenek opo tho? kerasukan maneh?kok mesti ngayal seng gak-gak. Sedheng tenan awakmu koyok ibukmu, perek” bapak membanting keras surat kabar dan pergi keluar entah kemana.
Bapak jadi suka marah-marah setelah ibuk kawin lari dengan abang tukang ojek yang biasanya mengantarkannya ke pasar.
Simbah yang pendengarannya sudah mulai terganggu terkaget-kaget dengan teriakan bapak. Sepintas aku melihat bulir air di sudut matanya sebelum beliau masuk ke dalam kamar.
Aku nggak gendheng kok mbah, aku nggak gila kok pak. Aku memang pernah kerasukan makhluk halus kata orang-orang, meracau nggak jelas gitu. Tapi SUMPAH aku nggak gila. Masak lelaki berumur 20 tahun menulis surat kangen kepada kakeknya dianggap gila. Aku heran tak habis pikir.
Aku yakin surat ini bakal sampai ke kakek. Aku percaya si malaikat post bakal datang nganterin surat tanpa perangko ini ke kakek sekalian titip salam ke bung Tomo.
Mau tahu isi suratku ke kakek?

Kepada Kakekku yang baik, Pahlawan Negara
Anggota terbaru Barzah
Assalamu’alaykum wr. wb.
Kek, apa kabar disana?baik-baik saja kan?sehat kan kek?pasti kan kek?disana kan tempatnya enak jadi kakek mana mungkin bisa sakit seperti disini. tempatnya nggak sempit kan kek?aku udah minta ke Allah agar jangan terlalu berat siksaannya. Kakek kan orang baik. Solat aja tepat waktu, ngaji dan sedekahnya juga rajin. Cucu-cucunya saja dilarang nonton TV biar nggak suka nonton gosip, ngomongin orang lain. TeOPe banget dah kakekku yang satu ini.
Kek, kangen ga sama Joko?sama Simbah?simbah serasa kehilangan belahan jiwanya lo kek. Pasti kakek kangen sama simbah.awas kalau nggak, ntar Joko bilangin ke simbah lo kek. Heuheuheu :D
Kek, bapak sering marah-marah loh kek, tahu sendiri kan kek bapak sekarang suka marah-marah sejak ditinggal ibuk kawin lagi sama abang tukang ojek yang biasanya praktek di ujung gang. Siapa kek namanya?Bang Toyib?pokoknya namanya seperti judul lagu. Bapak suka marah-marah nggak jelas gitu kek, nggak ada yang ngerem biasanya kan kakek yang sering negur bapak kalau mulai kambuh. Sekarang nggak ada kakek jadinya seperti itu kek. Barusan saja aku dikatain gila loh kek, gendheng. Masak aku nulis surat ke kakek dikatain gendheng, edan. Padahal UUD 45 Pasal 28 kalau nggak 29 mengatur tentang kebebasan berpendapat dan berpikir. Menurut Joko, menulis surat untuk kakek itu adalah imajinasi yang luar biasa. Setuju kan, kek?
Kek, kok ninggalin Joko cepat amat sih? Kan cerita perjuangan kakek mencapai kemerdekaan Indonesia belum selesai. Joko suka dengerin cerita kakek pas bagian kakek bantuin Bung Tomo memberikan semangat kepada arek-arek Surabaya. Keren abis, padahal waktu itu tentara Inggris mulai melancarkan serangan berskala besar yng diawali dengan pengeboman udara di gedung-gedung pemerintahan Surabaya. Serangan yang terjadi setelah pemberian ultimatum oleh Mayor Jenderal Robert yang dianggap sebagai penghinaan kepada Republik Indonesia yang waktu itu sudah berdiri. Ultimatum yang menyebutkan bahwa semua pimpinan dan orng Indonesia yang bersenjata harus melapor dan meletakkan senjatanya di tempat yang ditentukan dan menyerahkan diri dengan mengangkat tangan sedangkan batas waktunya jam 6 pagi tanggal 10 November 1945. Kakek berhasil selamat dari pertempuran berdarah di Surabaya dan berhasil membantu mengusir penjajah dan mempertahankan kemerdekaan.
Oh ya kek, udah ketemu Bang Tomo belum kek? Bilangin ya kek, masyarakat Indonesia sekarang ini tambah ga jelas kek, ancur. Banyak korupsi gitu kek, padahal negara kita miskin tapi kok masih sempet korupsi ya tuh pejabat-pejabat. Joko jadi mikir juga kek, anggota DPR yang kebanyakan korupsi itu pas pensiunannya kan juga udah digaji. Weleh.
Yang heboh lagi kek, baru-baru ini ada video mesum buatan anak SMP kek. Waaaaahh, Joko yang udah berumur 20 tahun ini saja nggak berani berbuat mesum kalah duluan sama anak SMP, diexpose lagi. Hehehe J
Eh, jangan dikasih tahu Bung Tomo deh yang tadi kek, ntar beliau nggak tenang disana. Salam aja yah kek buat Bung Tomo. Salam perjuangan dari Joko.
“Darah Syuhada mengalir suburkan negeri, tiada kata lagi kami harus kembali”
Sudah itu dulu saja kek, kapan-kapan disambung lagi. Semoga saja malaikat postnya datang nganterin surat ke kakek.
Semoga kakek, bung Tomo dan syuhada-syuhada lainnya tenang dan damai disana. Percaya dan yakin kek kita bakal dipertemukan dan dikumpulkan di nikmat dan indahnya Firdaus Jannah-Nya kelak. Maaf kek nggak bisa nyium tangan dan kening kakek seperti biasa, di Qadaa aja ya kek kalau udah ketemu disana
Oh ya kek salam juga buat Sang Revolusioner Akbar, Nabi pemberi petunjuk umat, Nabi Muhammad SAW tanpa beliau mungkin kita masih dalam jaman kegelapan/jahiliyah.
Teruntuk Sang Maha dari segala Maha, ya Rabbul Izzati , bersamalah kami selalu dan selamanya. Engkau Maha Baik banget, jaga kakek dan kami sekeluarga. Kami sangat mencintai-Mu
Wassalamu’alaykum wr. wb.
Aku menaruh kembali surat itu ke dalam amplop tanpa perangko, lalu setengah berlari aku naik ke loteng. Menaruhnya di pinggir badhukan. Berharap malaikat post datang mengambil surat dan mengantarkan ke kakek. Aku menunggu selama tiga jam, tapi malaikat post tak kunjung datang. Aku tahu di dekat tangga bapak dan simbah melihatku prihatin. Akan kubuktikan kalau aku tidak gila. Tiba-tiba…
Wusssshhh..
Angin berhembus kencang sekali dan suratku untuk kakek yang dipinggir badhukan terbang.
“Suratku!suratku terbang!”
Aku girang menatap lembaran itu terbang di hembusan malam, dibawah sinar rembulan. Aku melompat-lompat senang menuju bapak dan simbah yang mengintip di balik tangga.
“Pak,mbah, suratku terkirim!” aku melompat-lompat memeluk mereka berdua. Suratku bakal sampai ke kakek di dunia Barzah. Aku senang layang-ku terkirim.
Bapak dan simbah melihatku prihatin, “Ya Allah sembuhkanlah Joko”
*layang = surat
**badhukan = tembok rendah
        



You Might Also Like

0 comments

About me

Mencintai Sipil dan Sastra sebagaimana mencintai suami dan anak meski belum punya.

Penggiat Senyum dan Kebahagiaan Ummi Abi

Civil Engineering 2011 | Brawijaya Malang University | Young Engineer at PT Hirfi Studio Engineering and Management Consultant

Blog : jun-syifa.blogspot.com
Twitter : @araleostrada
Instagram : @jun.syifa

Like us on Facebook

Flickr Images