Wahai Ramadhan, adakah aku benar-benar merindukanmu?

21:12



Aku merindukanmu Ramadhan, seperti senja merindukan purnama menggelayut manja di kala subuh.
Aku merindukanmu Ramadhan, seperti sepasang bola mata merindukan tali sepatu yang tak jua kau ikat.
Aku merindukanmu Ramadhan, seperti sang Nakhoda memutar haluan arah kapalnya merindukan badai lautan yang tenang
Aku merindukanmu Ramadhan, seperti sang Ibu mencari anak pertamanya, kembali ke perantauan lalu tiada pernah mengirim kabar
Aku merindukanmu Ramadhan, seperti sang gadis yang menunggu pemilik tulang rusuk yang ia bawa pergi potongan hatinya.
Aku merindukanmu Ramadhan, seperti kening menghadap dermaga ujung arah kiblat di sepertiga malamnya
Wahai Ramadhan, adakah aku benar-benar merindukanmu?atau hanya Pura-Pura Rindu? 
-Jun Syifa' 08062014

Ramadhan, kurang beberapa hari lagi, euforia tahun ini berasa bersamaan dengan perhelatan sepak bola akbar se-dunia 4 tahunnya mengalahkan ramainya Social Media sebagai ajang black and negative campaign dan caci maki tahun pileg, tahun pilpres. Tahun Politik. Aku rasa.
Benar sekali, suka cita kami menyambutmu wahai Ramadhan. Apa yang kita rindu? suasana hangat berkumpulnya keluarga saat berbuka, masjid, musola, surau-surau kami yang hidup akan lantunan ayat suci Al Qur'an?
atau pukulan sapu lidi dari kakek kami karena tidak segera pergi ke masjid yang masih berat dengan perut kekenyangan atau guyuran dari kakak laki-laki kami karena tidak segera bangun untuk sahur padahal pemuda-pemuda masjid di desa kami sudah membangunkan, menyusuri tiap gang sejak 12 tengah malam dengan lagu dangdutnya atau gendang galon yang ditabuh keras?

Lalu, bagaimana Ramadhan? kau tidak tanya bagaimana kami merayakannya? tanyalah.

Kami melakukan agenda rutin seperti kebanyakan orang (mungkin), hari ini mau buka bersama sama si fulan, besok Selasa ada buka bareng dengan beberapa teman satu kontrakan, Rabu ada kajian rutin dilanjutkan dengan buka bareng teman sekelas, tarawih bareng, lalu ada Sahur On The Road, Kamis ada agenda buka bareng panti itu, panti ini. Jumat sepertinya bakal merayakanmu, wahai Ramadhan, sendirian lalu bareng keluarga sampai Sabtu. Minggu? sama teman-teman lagi yang mana. begitulah seterusnya. Terkadang, Tarawih aja dilewatin dengan alasan amalan Sunnah. Witir? nanti saja agak maleman dikit hingga keblablasan. Salat Malam? tadi udah ditanya belum? kan kalau sudah tarawih dan witih ya sudah jangan ditanya.
Habis subuh kebanyakan dari kami bakal tidur karena bukankah tidur di bulan Ramadhan saja dinilai ibadah, benar begitu kan?

Lalu, apakah aku benar-benar merindukanmu Ramadhan atau hanya pura-pura saja ini,

Kami kuat sekali menahan lapar, dahaga dan nafsu kami karena janji sang Ibu akan memasakkan makanan kesukaan kami, lezat dan banyak, dengan minuman super duper dingin penghilang haus yang mengganjal di kerongkongan. Apalagi, apa kami tidak tergiur bermain 'siapa yang paling kuat dan paling lengkap puasanya, tidak ada yang bolong' jika ada janji Kakek dan Nenek akan menambah 'isi' dompet kami di waktu Lebaran nanti.

Lalu, Ramadhan, kamu tidak mau bertanya lagi selanjutnya apa setelah Ramadhan berakhir?

Oh tentu saja, kami akan pergi ke sanak saudara kami di tempat lain, rombongan beramai-ramai, seperti semacam reuni keluarga sampai kamu (mungkin) tidak hafal nama-namanya. kebanyakan orang lagi-lagi (mungkin) melakukannya.
Lihatlah, kami bermaaf-maafan, makan bareng di salah satu anggota keluarga, resep kue baru-katanya
'aih, kamu sudah besar ya? udah semester berapa? kapan nikah?' dalih-dalih pertanyaan basa-basi demi memecah sebuah kekakuan yang menempel selama setahun terkikis dengan tawa hangat bersama demi 'mengantri' pada sang Kakek dan Nenek menambah 'isi' dompet kami.

Ah, Ramadhan... beginilah..
kepada Allah, disampaikan kepadamu, kami selalu bilang kami begitu merindukanmu. Sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan. sampaikanlah umur kami pada bulan Ramadhan. sampaikanlah hati kami pada bulan Ramadhan. Kami tak mau merugi, rugi tidak bertambah pahala. rugi tidak berkurang dosa.
Siapkan diri dan hati ini, ketika itu pula, kami selalu bilang kami tak sabar lagi untuk berjumpa denganmu-takut banget rasanya, bila ternyata umur kami ini membuat kami tak punya kesempatan untuk kita saling menyapa, saling mengisi, saling menyemangati dan... saling merindu.

Ah, Ramadhan... begitulah yang kami dambakan...
Menuju bulan suci. Kembali ke nol, membersihkan diri. Kembali ke fitrah di hari kemenangan.

seperti tulisan seseorang,
"Tiap hari kami menghitung lembar-lembar kitab yang telah kami baca, kami tersenyum: sudah banyak, insyaallah targetan kami tercapai. Kami tak terlalu peduli apakah kitab yang bolak-balik kami baca itu kami mengerti atau tidak, apalagi mengamalkannya—kejauhan. Kami sudah sangat puas bila ada yang bertanya ‘sudah berapa lembar yang telah dibaca’ kami bisa menjawab: sudah khatam dua kali. Lalu mereka kagum. Bukankah itu surga? - Azhar NA"

Aku merindukanmu Ramadhan, seperti sebuah sajak "Wahai Ramadhan, adakah aku benar-benar merindukanmu?atau hanya Pura-Pura Rindu?"

Malang, 8 Juni 2014 (c) Jundina Syifa'ul Mujahidda

You Might Also Like

2 comments

About me

Mencintai Sipil dan Sastra sebagaimana mencintai suami dan anak meski belum punya.

Penggiat Senyum dan Kebahagiaan Ummi Abi

Civil Engineering 2011 | Brawijaya Malang University | Young Engineer at PT Hirfi Studio Engineering and Management Consultant

Blog : jun-syifa.blogspot.com
Twitter : @araleostrada
Instagram : @jun.syifa

Like us on Facebook

Flickr Images