Allah is the Reason For Me to Move On

06:16





"Jangan biarkan hati menuruti nafsu. Dalami hati. Dia punya jawaban sebenarnya. Apakah yang kita lakukan ini benar atau salah?"

Teringat pesan Murabbi ku yang ke-2, jangan terlalu lembek terhadap situasi dan senantiasa membenarkan /(memberikan rukhsah) terhadap kemaksiatan sesederhana yang kita tahu. Tetap menjaga pertautan hati dengan Allah SWT, godaan syaithan sangat halus dan dapat melalui banyak media.

#mencintai_seelok_fatimah_dan_sejantan_ali

Jodoh tak kan tertukar.....tinggal kita tunggu "bocoran" jawaban dari ALLAH SWT


Desti Triyana
Belum ada judul
23:23 , Barakallah fii umrik....,masih sempatkan? Masih ada setengah jam lagi. Ini lucunya, awal  pertemuan itu ternyata berdekatan dengan hari peringatanmu. Jika kamu menyadarinya, bulan ini istimewa. Ada lebih banyak bintang di bulan ini,bulan kelahiranmu. Di sumatra, mereka lebih banyak yang bertaburan seperti kunang-kunang di dongeng peri-peri saat kita di usia sebelum satu windu awal. Aku selalu suka bintang, yang akhirnya menjadi .... dan mungkin pula “wish” itu harusnya menjadi milikku, bukan kamu. Aku jadi tau sekarang mengapa bintang di sini tak sebenderang bintang di Sumatra,pulau asal manusia sepetiku dilahirkan. Itu karena ia sipit dan hanya sepasang, tapi lebih bisa membuatku menunduk tak mampu menatap dan berkata-kata kecuali dengan coretan tinta di kertas ukuran sedang bergaris ini. Tak seberani aku menatap benderangnya bintang-bintang Sumatra. Bintang yang aneh memang.
Semoga ini tak dangkal,                                                                                                                       Aku coba yakinkan bahwa ini biasa saja,hanya beberapa waktu dan taklama, mungkin dua atau tiga hari kedepan sudah lain tapi lihatlah senyum itu (yang mungkin bukan sebuah senyum tapi buat ku jadinya senyum atau lama-lama jadi senyum) walaupun aku tau bukan teruntuk diriku tetapi, tiap kali melihatnya mampu membuat yang di sebelah kiri ini jadi bergetar.
Semoga ini tak dangkal,                                                                                                                                     Saat sulitnya bertatap tapi itu membuatku amat menghargai setiap pertemuan. Tentang kamu, semuanya jauh memang. Kita itu bagai dua sisi mata uang. Baik dunia, jarak, cara, dan lainnya... tak saling kenal tapi terasa percaya. Ada kenyamanan yang semoga bukan rayuan syetan. Kala kerinduan harus di bayar dengan tindakan bukan ketergesaan dan bodohnya jahiliyah. Akan tetapi, semangat menunjukkan bila dalam diri ini ada kebaikan bagi kamu yang baik. Bahwa Tarbiyah itu sampai dan terus menaungi. Akan kehadiranmu di fikirannya, takserta merta menelan ruang logika dan imagi tetapi senantiasa digunakan untuk memikirkan prestasi-prestasi demi memantaskan diri. Kamu, bilakah kita bertemu secara nyata di kursi yang sama kelak? Kadang keraguan muncul jika terpikir lagi bahwa engkau tentu banyak yang mengenal dan engkau kenal sementara kita tak saling kenal. Bahwa mungkin rasa yang di damba ternyata hanya milik sendiri. Sungguh sudah kukatakan kita banyak bedanya. Orang bilang jodoh kita memiliki rupa yang mirip dengan kita tapi antara aku dan kamu, kita tetap sangat jauh berbeda. Kesukaan kita,mungkin juga cara pandang dan pikir. Aku memang benar-benar takkenal kamu, yang kutau kita tak mirip sama sekali. Lihat saja mata kita, aku coklat dan kamu hitam, mataku besar kamu sebaliknya, bibirku kecil agak tebal kamu tipis, kulitku kuning, kamu gelap, de-el-el. Tapi jangan bilang kalau kamu laki-laki dan saya perempuan sebagai kategori pembeda,tentu yang ini harus berbeda bukan? Satu yang mungkin sama yaitu lingkungan dan Tarbiyah kita.
Maka berlebihankah aku jika aku bertanya akankah kita duduk di kursi yang sama kelak barang lima sampai tujuh tahun lagi sementara kita tak saling kenal? Sementara mungkin di waktu itu kamu dapatkan pemandangan baru yang lebih menarik minat dan perhatianmu, atau Tuhan tak perkenankan kita atau Ia pertemukan kita saat salah satu atau kita berdua telah dengan yang lain? Akankah harapan yang bernafaskan do’a ini dikabulkan manakala antara kitapun tak saling bersua? Bahwa jika kau hanya ada dalam pendaman terdalam tempat dimana dunia tidak bisa menemukanmu sama sekali di mata mereka. Atau apakah ini juga jadi kesamaan buatmu? Ku dengar laki-laki lebih memiliki fokus dari pada kaum hawa, dan bisa jadi tak pernah sedikitpun aku ada meski hanya selintas bersit di hati maupun fikiranmu. Wahai hati yang menggetarkan hati,wahai jiwa yang memiliki raga dan sosok yang ku damba. Mampukah kau jawab aku dengan kalimat yang paling sulit di ucapkan seorang mujahid  selama hidupnya? Relakah engkau beri sebagian tanggung jawabmu pada sosok yang bertanya itu? Dan sudikah engkau menjadi guru abadinya, menjadi teman hakikinya, menjadi imam sejatinya, hingga di Jannah-Nya?
Sekali lagi semoga tidak dangkal.....
*

Mendadak jadi seperti ini, seolah tintaku begitu penasaran untuk menafsirkanmu. Ya, benar kamu ada di ruang fikirannya tetapi tidak untuk menyitanya. Entahlah mengapa intensitas menjadi meningkat padahal ini pertemuan yang tidak di rencanakan sama sekali, atau sebenarnya sejak dahulu sering kujumpai kamu tapi hanya saja keadaannya belum begini? Ah, seingatku tidak! Tadi itu benar-benar sebuah kejutan, kalau saja aku pergi tak sesuai dengan izin mereka tentu takkan aku bertemu kamu. Ingi rasanya berlama-lama meyakinkan diri bahwa yang di lihat memang kamu tetapi bukanlah wanita yang dekat dengan nabi jika itu terjadi. Bahwa tentunya ku tahu jika ingin aku pantas bagimu maka lebih awal harus kutahui  mana yang telah jadi hakku dan mana yang belum. Ada kebanggaan saat hati mampu melawan nafsu. Terimakasih pula atas ego yang membawa kebaikan ini. Dua kali di dua tempat berbeda kita bertemu, menghirup oxygen di ruang yang sama tak saling bersua atau berpandangan, karena memang kita tidak kenal. Sejujurnya ada sebuah keurigaan dalam pertemuan rangkap ini dan benar saja hari yang di tunggu ternyata tidak ada. Hari yang membuatku belajar bahwa tiap perjumpaan itu bernyawa. Hingga hari ini aku masih takut dan ragu, akankah ini bukan hanya jadi rasaku? Satu saja, beri aku tanda mungkin sebuah sebyum tulus saat kita bertemu, atau tatapan yang menyatakan kau juga ada, hadir di dunia itu. Dunia tempatku bisa tahu bahwa kita berkenalan di sana dan saling rindui satu sama lain diantara dunia nyata yang ternyata fana. Tempat kenyataan menyatakan kita tak saling kenal. Tak mengapa hari yang menjaid penantian ternyata tidak ada. Hari dimana nilai sebuah pertemuan tinggi dan kesempatan menjadi taeramat mahal. Ya Allah, akau tahu waktu kemungkinan besar  tak berpihak padaku tapi bantulah hamba dikesempatan. Sederhana saja, aku ingin bertemu seseorang sepertimu di hidupku, mengabadikannya di hatiku yang senantiasa mengiringi langkah-langkah kecilku. Akankah “mungkin” itu menjadi “tentu”? jika ya, maka beri hamba kesempatan itu ya Allah, saat lima hingga tujuh tahun kemudian telah kami lalui sebagai penempuh pelajaran untuk menebus pertemuan. Aamiin...
*
Di sudut pojok kamrku ini, kau merenungi awl perjumpaan kita. Aku tak tahu parameter apa yng menjadikan kusadar  ada rasa di ranah ini sedang kita taksaling kenal. Akau ajdi ingat kejadian dua hari lalu saat tanpa senagja kulihat sosok yang ad adi balik hijab itu, awalnya tak yakin kamu, lamat-lamat kuperhatikan, ah benar saja itu memang kamu. Lalu pertanyaannya bagaimana bisa di antara hijab aku melihatmu? Tentu sajalah itu karena hijabnya yang salah bisa-bisanya ia tersibak. Tau itu salahmu tidak hati-hati hingga dirimu bisa nampak olehku. Ah tidak juga, aku tau kau tak bermaksud begitu. Satu yang mungkin ku lupa, menanyakan kesalahan itu pada diriku sendiri. Mengapa salahku? Ya, karena aku tak mampu menjaga pandanganku! Benarkah jadinya begitu? Yang sempatku tahu,ketika manusia bersalah sesungguhnya ia menyadari kesalahannya akan tetapi dasarnya manusia tetap ia takmau mengakui kesalahannya meski pada dirinya sendiri, sehingga ia mencari pembenaran akan pendapatnya. Benarkah aku begitu? Lalu kalau begitu awal pertemuan kita sesungguhnya diiringi panah beracun iblis saat lima kali temu pandang itu membuat kita tersipu, sungguh ampuni aku ya Allah. Tak ingin ku racuni madu dengan setitik pukatpun. Samahalnya melahirkan cinta suci dengan cara yang tak di ridhhoi, bisa ajarkan aku..........???
*
Entah mengapa pesimis  menggelayuti melulu. Ingat satu minggu yang lalu tepat di hari saat orang-orang berkumpul di sana dan kamu dan aku dan kita. Kamu yang ada ditepi kolam duduk menghadap timur, akankah kau saat itu melihatiku? Karena aku begitu. Mengapa tak lekas pula kamu beranjak sedang tak ada apapun yang kamu perbuat, entah itu membaca mungkin, hingga seseorang datang padamu dan membuyarkan perhatianku. Orang yang sempat berhasil megesalkanku, menutupi kedambaan di tepi kolam itu. Kuperhatikan lama pula engkau bertahan di sana, adakah yang kau tunggu di sana? Mungkinkah sesungguhnya saat itu kau tengah membaca? Menbaca hatiku akan dirimu. Menungguku berikan tanda seulas senyum tulusku yang selalu tersembunyi di balik bibirku. Tidak,tentu itu yang menjadi pikiranku. Aku tak tahu, aku tak mau. Jika itu kulakukan sedang aku tak yakin akan dirimu yang mungkin  ternyata jauh dari apa yang aku sangkakan. Jika saja kamu yang lebih dulu, sungguh akan aku ingat benar itu sampai lima atau tujuh tahun lagi. Di masa itu akan kosong semua kecuali berisi sebuah ikhrar tersirat yang hanya tuhan yang Mahfum. Mungkin hari-hari kedepan akan penuh pertanyaan untuk sebuah jawaban, jawaban yang sesungguhnya tak mesti perlu kata atau suara untuk mengungkapkannya. Saat semua ini hanya rahasi hati, akankah Tuhan menyetujui? Jika lima sampai tujuh tahun kubutuhkan untuk meri’ayah diri ini. Kamu mungkin hanya cukup waktu  lima sampai tujuh hari untuk memutuskan seseorang menjadi pendampingmu. Jika sudah pada titik berfikir seperti ini, kau tahu? Itulah yang sering membuatku patah hati. Apa mau dikata, aku hanya maba tahun pertama. Sampai kemana pula keinginan mampu terlaksana...
Malang,Mei 2014

You Might Also Like

0 comments

About me

Mencintai Sipil dan Sastra sebagaimana mencintai suami dan anak meski belum punya.

Penggiat Senyum dan Kebahagiaan Ummi Abi

Civil Engineering 2011 | Brawijaya Malang University | Young Engineer at PT Hirfi Studio Engineering and Management Consultant

Blog : jun-syifa.blogspot.com
Twitter : @araleostrada
Instagram : @jun.syifa

Like us on Facebook

Flickr Images