PEREMPUAN YANG MEMILIH IBUNYA

05:40


Perempuan yang Memilih Ibunya (Lomba Menulis “Kisah Ramadhan, Penuh Inspirasi” CEER AL Hadiid FT UB)




Aku mengenal perempuan ini. Perempuan berkerudung lebar ini dengan kulitnya yang putih dan perawakannya bisa dibilang cukup tinggi, besar dan lebar alias gendut. Aku mengenal perempuan ini dan bagaimana ibunya.
Aku mengenal perempuan ini dari cara dia makan tanpa nasi tetapi tetap saja ngemil setiap malam, cara dia selalu mengulangi setiap topik pembicaraan ketika aku dan dia (selalu) bertemu saat liburan panjang. Topik artis ini itu, topik film ini itu dan topik yang sering dibicarakan dari salah satu murid yang diajarkannya di SMK tempat dia mengajar yang (selalu) komunikasi lewat Line, tepatnya murid ini sering mengeluh kepadanya, kesakitan. Perempuan ini selalu mengirim ucapan semangat, kata-kata penyejuk jiwa disertai emoticon-emoticon Line yang lucu. “Percakapan terkahir, ternyata pagi itu. “ ujarnya. Pagi itu sejak pukul 6, seperti biasa dia masih mengirim kata-kata motivasi kepada muridnya yang curhat merasa kesakitan di otaknya, pesan yang panjaaaaannngg sekali, tak ada balasan, karena pagi itu jam 9 muridnya sudah kembali ke Pemiliknya. Kanker. Percakapannya itu masih ada di riwayat Linenya sampai sekarang. Dan banyak cerita-cerita dari muridnya yang sering bermasalah, hamil dan sebagainya. Padahal dia guru PNS bahasa jepang, bukan guru bimbingan konseling.  
Aku mengenal perempuan ini, bagaimana ceritanya ia dulu bisa masuk ke jurusan pendidikan bahasa jepang di UNESA padahal ayahnya tidak menyetujuinya lantaran bahasa jepang adalah bahasa penjajah Indonesia. Dulu, aku berharap perempuan itu menemukan sosok Imam yang baik untuk keluarganya, lelaki yang baik untuk kehidupan dunia dan akhiratnya karena dia perempuan yang baik sekali, selalu menraktir makanan untukku dan anak-anak lainnya. Tapi, entah mengapa setelah 1 tahun dari pernikahannya aku tidak pernah melihat lagi Lelaki itu?
Lalu bagaimana dengan ibunya. Aku mengenal ibunya sebagai sosok ibu yang ‘ada-ada’ saja. Aktif ikut PKK, arisan dan senam ibu-ibu setiap pagi di hari tertentu di lapangan depan rumah. Ibunya terkesan cerewet bin bawel. Menyuruh cucunya yang baru datang dari kota lain untuk cuci piring, bantu masak, menyetrika, angkat jemuran, menyapu, njemur padi dan sebagainya. Tidak bisa melihat orang diam barang sejenak, ada-ada saja yang dikerjakan. Pokoknya, cucu-cucunya nggak bisa nonton TV dengan tenang apalagi kalau ayah dari perempuan itu ikut-ikutan, “TV kok didelok, ngaji!” kalau cucunya yang cowok yang cuma dua selalu disuruh adzan sejak kecil, diimingi-imingi uang lima ribu saat itu.
Dan tujuh tahun lalu, ketika ibu dari perempuan itu jatuh di kamar mandi dan stroke mulai menyelimutinya hingga memakai kursi roda. Segala aktifitasnya mulai menurun. Tidak ada kegiatan arisan, PKK atau senam lagi yang tersisa hanyalah suruhan. Ya suruhan menyapu. Kalau cucu-cucunya tidak bergerak dari depan TV, ibu dari perempuan itu menyapu sendiri memakai kursi roda, susah payah. Tiga saudara dari perempuan itu bergilir menjaga ibunya tiap minggu bahkan kakak tertuanya di pulau seberang, Kendari di Sulawesi Tenggara harus merogoh kocek dalam-dalam untuk pesawat merawat ibunya tiap bulan karena mereka hanya lima bersaudara. Dan beberapa bulan ini kondisi ibu dari perempuan itu semakin memburuk, luka-luka membekas hingga berlubang, berdarah dan bernanah karena penyakit diabetesnya, penyakit lupa karena sudah menua, tidak bisa jalan jadi harus berbaring di atas kasur, makan dan mandi dijadwal, dan mulai menggunakan popok seperti anak kecil. Kemana ibu perempuan itu yang gesit dan lincah itu?
Di bulan Ramadhan tahun 2014 ini, ibu dari perempuan itu tetap berpuasa, ngeyel. Hanya mempunyai utang 8 hari karena demam sehabis acara buka bersama keluarga yang menyita banyak tenaga. Menangis karena tidak bisa ikut tarawih seperti tahun-tahun lalu. Setahun yang lalu masih bisa ikut tarawih dengan duduk di kursi roda, tahun ini solat fardhu saja harus berbaring di atas ranjang. Tanpa tarawih.
Seperti hari ini (27/7), lihatlah bagaimana perempuan itu merawat ibunya yang seperti kembali menjadi anak kecil, harus mengganti popoknya, menyuapi dan memandikannya. Telaten sekali. Terkadang harus menghibur kalau ibunya tiba-tiba menangis (sering) kala mendengar cucunya yang kedua dari sebelas cucunya mengaji, atau menangis setelah diimami solat oleh cucunya. Atau kemarin (26/7) di kamar sebelah perempuan itu merasa menggigil kedinginan sampai tulang, kecapekan, dan ibunya memanggil-manggil minta makan, mengajak solat padahal belum adzan, menangis memanggil cucunya untuk memberi air putih yang banyak kepada perempuan itu atau  menyuruhnya (lagi) membelikan obat untuk perempuan itu, “mbak iwit belikan soto, obat dan kasih minum air putih yang banyak” lalu ibu itu menangis lagi. Aku sebagai cucunya melihat kedua orang itu sedikit bingung. Pesanan datang. Aku menyuapi ibunya. Perempuan itu di urus saudaranya alias Ummi.
Esoknya (27/7), perempuan itu sudah sehat. Lihatlah betapa bahagia wajah perempuan itu kala ibunya menghabiskan satu piring penuh saat sarapan, ya ibunya tidak puasa karena masih sedikit demam. Bahagia sekali saat ponakan-ponakannya yang kecil-kecil menyiumi wajah ibunya yang tertawa malu sehabis mengeluarkan bunyi kentut yang keras sekali. Bahagia melihat romansa ayahnya menyium pipi ibunya sehabis mandi, “ciuman mbah kungmu lo Ul MAHAL, deloken mbah utimu isin dicium mbahkungmu, isin udah wangi harum habis mandi. Hihihihi “ ujar perempuan itu padaku.
Dan malam ini takbir bergema di lapangan di sudut kota yang terkenal akan nasi pecelnya. Hei tunggu, kemana anak-anak kecil tadi? Saudara-saudara sepupuku? Ponakan-ponakan perempuan itu? Cucu-cucu mbah utiku? Oalah, mereka bersama mbahkung di dalam musola. Mereka berempat yaitu trio ngompol dan adik perempuanku berebutan microphone untuk takbir di musola depan rumah mbah utiku. Aku? Aku tersenyum, aku sudah melalui masa itu. Masa berebutan microphone, takbir tidak jelas karena bercampur dengan tawa, eyel-eyel-an lalu berhenti karena salah satunya pasti ada yang menangis. Bukan aku. Karena aku selalu menang berkelahi dengan ketiga saudara sepupuku yang di Kendari itu, satu laki-laki dan dua perempuan. Kami berempat sudah gedhe. Sudah tidak berkelahi lagi hingga ada yang menangis.
***      
Aku melanjutkan tulisanku.
Aku ingin seperti perempuan ini. Aku mengenal perempuan ini sejak kecil. Ya karena dia tanteku . Bukan dari pernikahannya yang gagal. Bukan. Tapi, dari kegigihannya merawat ibunya, menjaganya. Telaten dan sabar sekali. Aku ingin seperti tanteku yang sabar dan telaten, tapi aku juga ingin Ummi sehat selalu.
Untuk semua yang membaca tulisan ini, terutama penulisnya yang hampir sering menyakiti Ummi dan Abinya, :
Pada setiap napasnya, bunda membuat matahari baru dalam jiwamu. Bunda adalah yang terhebat di dunia sebab ia melahirkan kehidupan dan memberi nyawa pada kata CINTA.
Ayah adalah yang teristimewa di dunia sebab dari keringatnya ia memberi tapak untuk melangkah. Pada setiap nafasnya ayah memancangkan tiang-tiang asa agar langkahmu sampai pada bianglala.
Maka bersabarlah kepada mereka dengan kesabaran yang baik.
Sayangi kedua orang tuamu dan perlakukan mereka berdua dengan baik dan benar.
Jangan sampai menyesal ketika mereka atau salah satunya sudah tiada, dan hanya meninggalkan memori untukmu.
Ketika semua orang bercerita tentang apa yang dilakukan selama 10 hari terakhir ramadhan, iktikaf dan sebagainya. Aku memilih tidak. Aku lebih memilih: akan kuceritakan apa yang kuamati dan kualami selama 10 hari terakhir ramadhan tahun ini.





Malam Takbiran 1435 H
27 Juli 2014 10:41 PM
-Di salah satu kamar rumah mbah yang ada Musola Aliyah
depan Lapangan Rejomulyo, Madiun

You Might Also Like

0 comments

About me

Mencintai Sipil dan Sastra sebagaimana mencintai suami dan anak meski belum punya.

Penggiat Senyum dan Kebahagiaan Ummi Abi

Civil Engineering 2011 | Brawijaya Malang University | Young Engineer at PT Hirfi Studio Engineering and Management Consultant

Blog : jun-syifa.blogspot.com
Twitter : @araleostrada
Instagram : @jun.syifa

Like us on Facebook

Flickr Images