PEMIRA UB 2014 : Neraca Soliditas Teknik

18:57

Ada satu identitas yang tidak bisa dipisahkan dari nama besar TEKNIK. Apa itu? SOLIDITAS. Karakter Fakultas Teknik yang sudah sangat akrab di jiwa mahasiswa TEKNIK. Tertempa dengan matang yang terlihat dari panjangnya pembinaan yang hampir satu semester bahkan lebih. Sudah tidak diragukan lagi. Jika disebut nama TEKNIK maka jawabannya kebersamaan, Soliditas. Tapi sepertinya momentum terdekat menjadi pembuktian seberapa tinggi harga sebuah soliditas di Teknik. Masihkah 'Solid' menjadi identitas mahasiswa teknik? Realita menjawab pertanyaan ini.

Mungkin kita sudah tahu bersama momentum apa yang dimaksud. Agenda tahunan yang sebagian besar mahasiswa sangat mengetahui agenda ini. Ya agenda ini adalah Pemilihan Mahasiswa Raya 2014 (PEMIRA). Pemilihan para calon presiden EM dan Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM). Tentunya mahasiswa teknik juga tahu apa itu PEMIRA. Seawam-awamnya mahasiswa Teknik.

Untuk tahun ini seperti tahun sebelumnya Fakultas Teknik mendapat jatah dua tempat pemungutan suara (TPS). TPS 4 untuk daerah teknik Industri, Elektro, Mesin. TPS 5 untuk daerah Pengairan, Arsitek, Kimia, PWJ, Sipil.

Mari kita cermati hasil perhitungan suara di PEMIRA 2014 ini! Ada satu hal yang menarik dari hasil perhitungan suara PEMIRA di tahun ini. Khususnya di fakultas Teknik. Ada apa dengan Teknik?

Tahun ini Teknik mengirimkan dua nama untuk calon DPM UB. Calon pertama adalah Fauzan Syabani Tamsil dari Teknik Kimia 2012 dengan nomor pilih 11 dan yang kedua adalah M. Zahid Abdurrahman dari Teknik Pengairan 2012 dengan nomor pilih 16. Kedua calon adalah hasil keputusan Forum Dewan Himpunan (FDH) untuk dimajukan di PEMIRA 2014.

Perlu kita ketahui bahwa di tahun sebelumnya fakultas Teknik mengirimkan tiga nama untuk calon DPM. Hasilnya bisa kita lihat sekarang ada dua orang anggota DPM UB dari Teknik. Agak nya tahun ini calon yang diajukan bisa lolos semua. Karena hanya dua nama yang disetorkan untuk berlaga di ajang tahunan mahasiswa ini. Suara Teknik di PEMIRA bisa lebih fokus pada dua nama tersebut.

Hasil keputusan Forum Dewan Himpunan (FDH) sebagai salah satu Forum tertinggi di Teknik memutuskan bagi suara untuk kedua calon ini. Bisa diterka bahwa jatah TPS di teknik menjadi acuan bagi suara untuk para calon. TPS nomor 4 (Elektro, Industri, Mesin). TPS nomor 5 (Pengairan, Arsitek, PWK, Sipil, Kimia). Hasil perhitungan suara nanti akan menjawab bagaimana bagi suara ini diputuskan FDH. Kita tinggalkan analisis di atas. Suara sudah ditentukan tinggal di jalankan. Cerita di FDH semoga menjadi realita. Tapi, kita lanjutkan dulu cerita nya.

Hari H pun tiba. Rabu, 10 Desember 2014 menjadi hari penentuan segala usaha pemenangan. Pun dengan Teknik yang mantap dengan putusan FDH nya. Semua dirasa adil dengan keputusan ini. Tidak ada masalah. Namun di lapangan sepertinya lain ceritanya. Lain dari perhitungan. Instruksi di masing masing jurusan beda beda. Sesuaikah dengan FDH? ada iya nya ada juga tidaknya. Apa mau dikata. Politik selalu dinamis sampai detik terakhir tidak mudah diterka.

Kenyataan berbicara lain dengan putusan FDH. Hasil perhitungan suara untuk TPS 4 & TPS 5 : untuk calon nomor 11 Fauzan Syabani Tamsil mendapatkan total 290 suara. Calon nomor 16 M. Zahid Abdurrahman mendapatkan total suara 448. Dan ada satu calon lagi di luar teknik yang terangkat suaranya yaitu nomor 3 dengan total suara 222.

Ada apa ini ? Logisnya ketika dikaitkan dengan ke-Solid-an Teknik seharusnya suara dari Teknik tidak lari kemana-mana? Larinya ke calon calon Teknik saja. Tapi apa yang terjadi? Suara Teknik dipecah. Sangat dinamis persebaran suara di TPS-TPS di Teknik. Hampir semua calon dapat suara dari mahasiswa Teknik. Sangat beda dengan TPS di fakultas lain yang lebih terarahkan suaranya ke calon yang mereka usung. Kalahkah solid nya Teknik dengan fakultas lain?

Di Teknik, suara tidak terfokus kepada para calon dari Teknik. Bisa kita lihat bersama di lapangan,. jika kita polarisasikan suara Teknik di pecah ke calon lain di luar fakultas Teknik. Dapat kita lihat hasilnya bahwa selain calon dari Teknik( nomor 11 dan nomor 16) calon dengan nomor pilih 3 juga salah satu pendulang suara terbanyak di 'kandang Teknik'. Siapa dia? Kita bahkan mungkin tidak mengenalnya. Sekali lagi pertanyaan yang menggelitik muncul. "Ada apa dengan Teknik?".

Mari kita berpikir logis. Ada berbagai macam kemungkinan yang bisa dikemukakan. Tingkat partisipasi mahasiswa dengan kesadaran dalam memilih calon, cermatnya mahasiswa dalam menilai para calon, atau yang lebih ekstrem lagi adanya instuksi diluar FDH yang tidak sesuai apa yang sudah diputuskan FDH. Semua diatas menjadi kemungkinan yang dipertimbangkan dalam menentukan jatuhnya suara mahasiswa Teknik ke siapa.

Tapi kali ini kita berbicara tentang politik. Bukan seauatu yang serba tidak sengaja dan serba kebetulan. Bukan pula soal yang tidak bisa dinalar dan diperhitungkan. Disini ada instruksi yang jelas untuk kemaslahatan. FDH bersuara jelas bagi suara kepada siapa. Tapi agaknya dinamika politik di Teknik bukan sekadar suara FDH saja. Banyak kepentingan dari berbagai macam pihak. Dari berbagai macam latar belakang. Masih biru kah warna Teknik? Rasanya untuk sekarang sudah tidak lagi. Warna-warni? Bisa jadi. Dan warna warna ini bergerak. Tidak diam saja. Sah sah saja selama tidak ketahuan.

Pertanyaan yang mungkin menjadi evaluasinya, Sejauh mana instruksi FDH dijalankan ? Sebebasnya mahasiswa Teknik dalam memilih masih bisa berpikir dan menggunakan hak suara sesuai instruksi. Ada instruksi terpusat dari FDH. Instruksi yang sah secara kelembagaan. Suara Teknik diarahkan untuk kebersamaan. Apalagi ini untuk calon dari Teknik sendiri.

Adakah yang sengaja membuat cabang cabang keterpecahan suara dari Teknik?
Apakah ada yang bermain dengan aturan main yang baru selain FDH? Ketidakselarasan antara hasil dengan rencana membuat kita bertanya tanya "Ada apa dengan Teknik?". Seakan semakin hari otoritas para "wali songo" (BEM) semakin tidak mengikat. Sudah tidak punya hak. Tidak lagi didengar. Semakin culas saja cara bermain para pemain 'politik belakang panggung' di Teknik.

Dampaknya apa? Bisa jadi calon dari Teknik tidak lolos sebagai anggota DPM UB. Kalau tahun lalu kita bisa dapat 2 kursi di legislatif, akan kah hari ini jatah itu berkurang atau bahkan tidak dapat sama sekali. Suara Teknik siapa yang mau menyampaikan kalo bukan 'arek Teknik'. Dititipkan? Kepada siapa? Akankah mereka mendengar? Akankah mereka menyampaikan?

Selebihnya sebagai mahasiswa Teknik kita kembali melihat diri kita. Sadarkah bahwa mereka para calon yang maju adalah pembawa suara kita yang nantinya akan memperjuangkan aspirasi kita? Sudahkah kita cermat saat memilih mereka? Atau bahkan tak tersalurkan suara kita untuk mereka. Apakah "karena tidak kenal calonnya" masih menjadi alasan untuk tidak memilih? Tersibukkan dengan tugas besar dan laporan. Tak melirik lagi sekitarnya tak peduli. Bukan kah itu egois?

Pertanyaan yang mungkin menjadi ragu jawabannya melihat kenyataan yang ada. Masihkah Teknik Solid? Dan kita hanya bisa berteriak 1...2...3...TEKNIK! (*red/jun)

-

Tulisan dengan judul asli PEMIRA: Neraca Solid Tidaknya Teknik ditulis oleh rekan saya, Ilham Bolota, mahasiswa Teknik Pengairan 2011 Universitas Brawijaya pada hari Selasa 16 Desember 2014 via Whatsapp. Sudah saya edit beberapa kata dan judul tetapi tidak mengubah isi untuk saya taruh di Lembaga Pers Mahasiswa Teknik, SOLID berhubung saya anggota LPM tersebut.  Sayang, kata ketua Kammi Teknik 2014 tidak boleh diposting di LPM SOLID karena dinilai terlalu provokatif jadi saya taruh di blog saya. boleh kan? :)

You Might Also Like

0 comments

About me

Mencintai Sipil dan Sastra sebagaimana mencintai suami dan anak meski belum punya.

Penggiat Senyum dan Kebahagiaan Ummi Abi

Civil Engineering 2011 | Brawijaya Malang University | Young Engineer at PT Hirfi Studio Engineering and Management Consultant

Blog : jun-syifa.blogspot.com
Twitter : @araleostrada
Instagram : @jun.syifa

Like us on Facebook

Flickr Images