Kemana Mahasiswa?

10:44

Kemana Mahasiswa?
Akhir-akhir ini banyak kritikan pedas terhadap mahasiswa. Hal ini karena mahasiswa sekarang dinilai sangat berbeda dengan mahasiswa dulu. Katanya sudah tidak terlalu peduli dengan masalah bangsanya.
Sebenarnya saya kurang sepakat kalau mahasiswa sekarang dianggap tak sehebat mahasiswa dulu. Bayangkan saja, mahasiswa dulu hanya memiliki tiga tugas utama; iron stock, agen of change, dan agen of social control. Sedangkan mahasiswa sekarang selain menjadi agen of change dan agen of social control, sebagian juga menjadi agen pulsa, atau agen bisnis online. (ayo segera dipesan, hari senin harga naik)
Tapi selain menjadi agen untuk beberapa hal di atas, mahasiswa sekarang ternyata juga sangat membutuhkan agen lain, terutama agen biro jodoh. *tunjuk temen sebelah*
Mahasiswa pun kini dicari keberadaannya. Kemana mereka saat situasi bangsa sedang genting seperti ini. Sempat ada pertanyaan, kok mahasiswa sekarang seakan tidak merasa bahwa bangsa ini sedang banyak masalah ya? Setelah diselidiki, ternyata para mahasiswa tersebut habis goyang dumang bersama Cita Citata, akibatnya semua jadi senang dan masalah jadi hilang.
Dan ternyata mahasiswa sekarang sangat sibuk. Mungkin lebih sibuk dari mahasiswa dulu. Mahasiswa sekarang pagi-pagi sudah ada job untuk  joget “cuci-cuci jemur-jemur”  di acara Dah*yat dan In*ox, siangnya ke kampus, dan malam dapat job lagi untuk sekadar bertepuk tangan dalam acara talkshow di TV swasta. Jadi tidak ada waktu mikirin yang lain, termasuk untuk mencuci jas almamater yang sudah berminggu-minggu dipakai.
Ngomong-ngomong soal jas almamater, saat ini kita lebih sering melihatnya di acara hiburan televisi ketimbang di acara diskusi tentang permasalahan negeri. Disitu kadang saya merasa sedih. Lebih sedih dari sekadar tidak ada yang menyiapkan makan sahur saat Ramadhan.
Tapi tidak semua mahasiswa sekarang seperti itu. Masih ada di antara mereka yang masih peduli. Sebagian turun aksi dengan tulisan #SaveIndonesia, #SaveRakyat, atau yang terbaru #SaveKPK. Meskipun diantara mereka ada yang masih harus berjuang dengan tulisan #SaveIPK.
Kita harus apresiasi mereka yang masih bersedia berjuang melawan katidakadilan, yang berjuang melawan penindasan, dan juga yang berjuang melawan kesendirian. Untuk yang ketiga mari kita berikan doa khusus.
Kapanpun masanya, kita harus jadi mahasiswa penggerak bangsa, jangan jadi pengerat bangsa, karena itu adalah kerjanya tikus (kantor). Kalau turun ke jalan harus tulus, bukan karena mengharap nasi bungkus. Bergerak harus dengan niatan suci, bukan karena pesanan politisi, apalagi hanya ingin dilihat oleh calon istri.
Jadilah mahasiswa seperti pohon beringin yang kuat melawan angin. Jangan seperti pohon bambu yang mengikut arah angin. Lebih bagus lagi bisa seperti pohon kayu putih, karena bisa mengobati masuk angin.
Jangan takut melawan kedzaliman. Karena seberapun sakitnya berjuang dalam menegakkan kebenaran dan keadilan, masih lebih sakit berjuang menyelamatkan kesendirian #eaa..
Terakhir, agar kita kembali semangat, mari kita renungkan kembali sumpah mahasiswa.
Kami mahasiswa Indonesia bersumpah:
Bertanah air satu, tanah air tanpa penindasan
Berbangsa satu, bangsa yang gandrung akan keadilan
Berbahasa satu, bahasa tanpa kebohongan
Beristri satu, kecuali ada hal-hal di luar dugaan

AA, 15 Maret 2015

You Might Also Like

0 comments

About me

Mencintai Sipil dan Sastra sebagaimana mencintai suami dan anak meski belum punya.

Penggiat Senyum dan Kebahagiaan Ummi Abi

Civil Engineering 2011 | Brawijaya Malang University | Young Engineer at PT Hirfi Studio Engineering and Management Consultant

Blog : jun-syifa.blogspot.com
Twitter : @araleostrada
Instagram : @jun.syifa

Like us on Facebook

Flickr Images