Kita ini Muslim Sebelum Apapun dan Tak Semua Cocok/Bisa Menjadi Murabbi

20:10

What do I do whenever I miss You?

Frame yang ditanam dari awal masalah posisi jamaah adalah, nahnu muslim qabla kulli syai'in. Kita ini muslim sebelum apapun, sebelum tarbiyah, sebelum muhammadiyah, sebelum NU, dan lain-lain.
Hal ini perlu ditekanan sejak awal untuk meredam gesekan. Tapi, banyak yang secara tidak sadar berframe, nahnu tarbiyah qablal muslim. Ini yg fatal, akhirnya klaim-klaim sepihak yang muncul. Seolah yang diluar jamaah adalah di luar islam.. *itu contoh ekstrimnya.
Contoh sederhana adalah saat momen pemira:

“mari jadikan ini sebagai kemenangan seperti perang badar, kita kalahkan musuh-musuh”.

Gak jarangkan dapat sms atau jarkom demikian pas momen pemira? Kalau tujuannya mengobarkan semangat sih OK. Tapi kalau ujungnya adalah berpikir lawan politik pemira itu benar-benar berseberangan dengan Islam secara total. Maka yang timbul adalah menganggap “mereeka” salah semua dan berlawanan dengan Islam. Akhirnya di lapangan banyak yang “mengeras”, senyum, suluk, dan akhlak yang selama ini diajarkan di halaqah bisa menguap semuanya.
Ashabiyyah itu seperti tingkatan, perbedaan, kelas, pemahaman. seperti jamaah tabligh. Ashabiyah itu bangga dengan golongannya sendiri dan cenderung merasa paling benar saya sudah berdiskusi dengan beberapa asatidz yg punya pikiran dan kekhawatiran serupa.
Salah satu kesimpulannya adalah. mengubah frame ashabiyyah di level jamaah saat ini sudah susah, perubahan hanya di level personal antar jamaah, bukan secara struktur. Makanya di level struktur antar jamaah sendiri perlu difasilitasi taqrib (pendekatan) untuk ukhuwah dalam satu visi islam. 1

Dan juga,

Gak semua orang cocok dan bisa jadi Murrabi. Selo saja sih. Meski memang didorong untuk jadi murrabi, peluang ngajak untuk mengenal islam tidak hanya melalui perangkat usrah. Banyak perangkat lain yang bisa dimanfaatkan. Tapi kalau yang timbul adalah ketidakmauan itu yang jadi masalah.

“Jangan menunggu sempurna untuk memulai sesuatu” nasehat orang bijak, begitu juga untuk membina *i think, although its not that easy.

Maksudnya di atas, ada orang yang membina dan menyadarkan masyarakat tidak dengan cara usrah. Karena satu dua hal, lingkungannya ga bisa menerima bentuk usrah secara langsung. Dia melakukan ijtihad lain dari bentuk usrah yang ada, sebagai persiapan orang itu menerima usrah. Selanjutnya dia mengarahkan sahabat dan mad'u-nya ke usrah. Praktis di atas kertas dia tidak membina sama sekali. Tapi dia berhasil menjaring banyak orang untuk ikut usrah. Yang salah itu udah ga punya usrah, ga ber-ijtihad dalam rekrutmen juga. Tapi ngomong sana-sini nyalahin. Padahal itu karena keengganan dan ketidak pedulian. 2

Keterangan:
1 = http://araleostrada.tumblr.com/page/8#sthash.pjZcLFjC.dpuf  
2 http://araleostrada.tumblr.com/page/9#sthash.MWtOxJ5C.dpuf

~~ mencoba mengumpulkan tulisan yang dulu pernah dibuat dan hanya bisa membatin, "bisakah aku kembali seperti dulu? menulis apa yang ingin kutulis, kulihat, kudengar, kubicarakan. bebas dengan apa yang kusuka, cuek dan dingin apa kata orang, tak peduli buat dibaca orang apa tidak. "

Malang, 5 Agustus 2015 (c) Jundina Syifa'ul Mujahidda

You Might Also Like

0 comments

About me

Mencintai Sipil dan Sastra sebagaimana mencintai suami dan anak meski belum punya.

Penggiat Senyum dan Kebahagiaan Ummi Abi

Civil Engineering 2011 | Brawijaya Malang University | Young Engineer at PT Hirfi Studio Engineering and Management Consultant

Blog : jun-syifa.blogspot.com
Twitter : @araleostrada
Instagram : @jun.syifa

Like us on Facebook

Flickr Images