Jingga

22:30



Kita berjalan dengan bahu berdampingan
Menertawakan sesuatu yang tak penting sambil menatap mimpi yang sama
Jika aku dengarkan dengan seksama, aku masih mendengar suaramu diantara pemandangan senja kota
Saat kau tak disini, terasa benar-benar membosankan
Tapi saat aku bilang kesepian, kau hanya tertawa
Aku harus memastikan apa saja yang tersisa
Sesuatu yang bersinar dan tak akan hilang
Seperti langit yang tampak setelah hujan, hatiku pun cerah
Mengingat senyumanmu membuatku ikut tersenyum juga
Pasti seperti halnya kita dihari itu, seperti anak-anak yang polos
Kita akan pergi melalui musim yang berlalu untuk melihat setiap hari esok
Saat aku sendirian dan merasa khawatir
Di malam aku tak bisa tidur, kita terus berbicara
Aku ingin tahu apa yang kau lihat
Apa aku akan bisa melihatnya disini?
Di kota dimana jingga mewarnai segalanya
Aku mencoba untuk menyimpan air matiku
Satu cinta telahir diantara ratusan juta cahaya
Bahkan jika kau telah berubah atau tak beruba, kau adalah kau, aku tak perlu khawatir
Suatu hari saat kita berdua menjadi dewasa dan bertemu dengan orang-orang yang menakjubkan
Saat itu aku berharap kita bisa membawa keluarga kita yang tak tergantikan dan bertemu lagi di tempat ini
Seperti langit yang tampak setelah hujan, hatiku pun cerah
Mengingat senyumanmu membuatku ikut tersenyum juga
Satu cinta terlahir diantara ratusan juta cahaya
Kita akan pergi melalui musim yang berlalu untuk melihat setiap hari esok
Memilih dari setiap mimpi

You Might Also Like

0 comments

About me

Mencintai Sipil dan Sastra sebagaimana mencintai suami dan anak meski belum punya.

Penggiat Senyum dan Kebahagiaan Ummi Abi

Civil Engineering 2011 | Brawijaya Malang University | Young Engineer at PT Hirfi Studio Engineering and Management Consultant

Blog : jun-syifa.blogspot.com
Twitter : @araleostrada
Instagram : @jun.syifa

Like us on Facebook

Flickr Images