Percakapan 4 Orang Sekawan

15:29



GENERASI WACANA
oleh Rhenald Kasali
Saya sering kasihan melihat anak-anak muda yang makin pintar tetapi hidupnya galau. Penyebabnya beragam. Misalnya, karena hal sepele saja. Belum lagi tamat SMA, mereka sudah dikejar-kejar orang tuanya, "Mau kuliah di mana? Swasta atau negeri?"
Bahkan, sampai menjelang lulus SMA sekalipun, masih banyak yang bingung mau kuliah di mana dan jurusan apa? Jangan heran kalau banyak yang salah jurusan.
Bahkan, sarjana nuklir pun berkarir di bank, sarjana pertanian jadi wartawan, dan seterusnya. Susah-susah kuliah di fakultas kedokteran, namun begitu lulus maunya jadi motivator.
Karena sejak awal sudah galau, setelah lulus tetap galau. Generasi ini pada gilirannya bermetamorfosis menjadi generasi wacana. Jadi, karena dulu selalu galau, setelah lulus hanya mampu berwacana. Ribut melulu. Paling jauh cuma bisa berbuat heboh di media sosial, membuat meme, tetapi tidak berani bertindak. Apalagi menggambil keputusan.
SUARANYA LANTANG
Indikatornya simpel. Kita bisa dengan mudah menemukan mereka dimana-mana. Contohnya begini. Ada dahan yang patah dan menghalangi jalan. Lalu lintas pun jadi macet. Apa yang dilakukan generasi wacana? Dengan gadgetnya, mereka memotret dahan itu. Juga memotret kemacetan yang terjadi. Lalu, mengunggahnya ke media sosial, tentu disertai dengan komentar. Isinya kritik. "Dimana dinas pertamanan kita? Ada dahan yang tumbang kok didiamkan!" Lalu, ketika hasil unggahannya dikomentari banyak orang, senangnya bukan main.
Begitulah potret generasi wacana. Padahal, kalau mau membantu, dia bisa menyingkirkan dahan tersebut dari jalan. Tidak hanya berwacana. Begitulah kita juga saksikan sikap mereka terhadap asap. Itu hanya satu contoh. Contoh lainnya ada dimana-mana.
Sebagian generasi wacana tersebut memasuki dunia kerja. Karir beberapa di antara mereka meningkat dan menduduki posisi-posisi penting. Kalau diperusahaan swasta, mereka itulah yang berteriak paling keras ketika kondisi ekonomi menjadi lebih sulit. Misalnya, ketika pemerintah mengubah kebijakan atau ketika rupiah melemah/kembali menguat seperti sekarang ini.
Kalau didunia politik, mereka ributnya minta ampun. Persis seperti anggota DPR kita. Biasanya kritik sana, kritik sini, tetapi pekerjaan utamanya, seperti membuat undang-undang, malah tidak diurus.
Kalau dilingkungan pemerintahan, mereka adalah orang-orang yang sibuk mengamankan posisi dan cari adu selamat. Caranya? Adu pintar debat dan lihai membangun argumentasi. Mereka sangat pintar kalau soal ini. Tetapi, nyalinya langsung menciut ketika ditantang untuk mengambil keputusan.
Akibatnya, kita merasakan dampaknya. Penyerapan anggaran akan terus sangat rendah dan kinerja perekonomian kita melambat. Kalau pemerintah saja tidak punya nyali, apalagi kalangan swasta.
WE CHANGE
Kalau mau melihat masa depan suatu negara, lihatlah generasi mudanya. Kalau generasi mudanya mudah galau, hanya bisa berwacana, bisa ditebak kelak seperti apa nasib negaranya. Kata banyak orang, karena galau dan sibuk berwacana, negara kita tertinggal sepuluh tahun dari negara-negara lain.
Contoh gampang. Lihatlah jalan tol kita. Kita membangun jalan tol sejak 1973. Lebih dahulu ketimbang Malaysia dan Tiongkok. Tapi coba lihat berapa panjang jalan tol yang telah kita bangun.
Malaysia mulai membangun jalan tol pada 1990. Namanya jalan tol Anyer Hitam. Panjangnya sekitar 10 kilometer. Itu pun yang mengerjakan adalah BUMN kita, PT Hutama Karya. Kini panjang tol di Malaysia sudah mencapai 3.000 kilometer.
Tiongkok pun baru membangun. Jalan tol pertama pada 1990. Jalan tol pertama yang mereka bangun bernama Shenda, menghubungkan dua kota, Shenyang dan Dalian. Kini Tiongkok sudah memiliki jalan tol sepanjang 85 ribu kilometer. Anda tahu berapa panjang jalan tol yang sudah kita bangun hingga saat ini? Belum sampai 900 kilometer! Begitulah kalau negara lain sibuk membangun, kita sibuk berwacana lantaran tidak berani mengambil keputusan.
----
"Bahkan sarjana nuklir pun berkarir di bank." Bold.
Dimulai dari diri sendiri dulu saja daripada sibuk mengkritik
Ini sebenarnya ga jauh2 disebabkan oleh filosofi Bangsa Indonesia sendiri kok. Kebanyakan dari kita kerja untuk menyambung hidup atau sekedar mengurangi angka pengangguran, jadinya banyak yang tidaj ditempatkan di posisi yang pas atau berbeda dari keahlian. Demi bisa bertahan dalan realitas hidup.
Kuliah Dan Kerja untuk cari uang, kemudian tdk kalah pentingnya cari gengsi. "Kuliah jurusan2 ini-ini-ini, nanti lulus kerja di sini-sini-sini, gajinya banyak" begitu biasanya nasihat orang2 kepada seseorang kpd anak yg bingung Mau kuliah. Apa2 pasti berorientasi hasil. Orang jadi takut salah, takut mengambil keputusan.
Tapi misal setelah lulus tdk jadi sesuai jurusannya, sepertinya bukan masalah. Siapa tau ternyata itu memang yg benar2 ingin dia lakukan, tapi sedikit terlambat. Siapa tau...
Semuanya bisa terjadi, karena manusia memang pada dasarnya ingin untuk memenuhi keinginan, keinginan orang tua untuk memasukkan anaknya pada jurusan yang terbaik dan yang mereka pikir benar juga mumpuni dimata mereka, tidak salah karena orang tua ingin memberikan bekal pada anaknya untuk menghadapi dunia yang tak bisa diprediksi lagi, walaupun mungkin masuk dalam jurusan yang tidak diinginkan suatu saat ada momen untuk memenuhi keinginan pada masa lampau, mewujudkan mimpi yang dulu pernah ada, walaupun masanya sudah lama berselang, pasti ada jalan untuk memenuhinya...pasti seperti kata zahro, mungkin sedikit terlambat dari waktu.yang diinginkan...
Ya... things happen. Kita ga pernah tau yang ada di depan. Yang jelas, kita kudu nglakuin yg terbaik, apa pun yg kita hadapi sekarang, biar ke depannya kita paham itu bagian dari konsekuensi pilihan kita, ga akan menyesal, dan yang jelas ga menyalahkan yang bikin hidup.
Tokyo, Malang, Kediri
3 November 2015 (c) Aimatul Masitoh, Dian Nofitasari, Jundina Syifa'ul Mujahidda, Zahro Kariima

You Might Also Like

0 comments

About me

Mencintai Sipil dan Sastra sebagaimana mencintai suami dan anak meski belum punya.

Penggiat Senyum dan Kebahagiaan Ummi Abi

Civil Engineering 2011 | Brawijaya Malang University | Young Engineer at PT Hirfi Studio Engineering and Management Consultant

Blog : jun-syifa.blogspot.com
Twitter : @araleostrada
Instagram : @jun.syifa

Like us on Facebook

Flickr Images