Payung Rusak

21:14














Sengaja kamu berjalan keluar dari persembunyian
Tak takut akan hari yang sudah petang, dan berhujan
Ada janji yang harus ditunaikan, katanya

Air dari payung yang digenggam rapat menerpa wajahmu yang menyenangkan
Kaki-kaki kecil berkecipak, sengaja bermain air agar orang lain terkena cipratannya
Kaus kakimu basah, sudut baju dan kerudungmu juga terkena air hujan dari tampias
Mulut yang mengatup rapat karena kedinginan

"Sudah lama tidak melihat langit"  kamu sedang bergumam tidak jelas.
Menengadah ke langit, menghirup aromanya, menggapai dengan jari jemari yang basah.
Abu-abu, tidak ada bintang gemintang.

Plash!
Tiba-tiba angin mengusik kenyamananmu, menerbangkan payung
Terjatuh, bengkok, besinya terlepas. Penuh lumpur
Kasar sekali
Wajah yang menyenangkan tadi hilang.

Pernahkah merindukan hujan?
Merindukan ritme yang tercipta dari setiap tetes rahmat Tuhan yang jatuh dari atap semesta?
Aku? Ya tak pernah serindu ini
Teringat akan sebuah janji.
Kamu tetap mengambil payung itu, memegang sudut payung dan kemudian
...berlari.

Malang, 31 Januari 2016 (c) Jundina Syifa'ul Mujahidda



You Might Also Like

0 comments

About me

Mencintai Sipil dan Sastra sebagaimana mencintai suami dan anak meski belum punya.

Penggiat Senyum dan Kebahagiaan Ummi Abi

Civil Engineering 2011 | Brawijaya Malang University | Young Engineer at PT Hirfi Studio Engineering and Management Consultant

Blog : jun-syifa.blogspot.com
Twitter : @araleostrada
Instagram : @jun.syifa

Like us on Facebook

Flickr Images